Dia bisa merasakan bahu Ling Xinlu sedikit menegang saat merasakan tekanan lembut dari lengannya. Yuri membalas pelukan itu, mendekapnya dengan erat.
"Inilah sebabnya... sulit bagiku untuk menyukaimu dengan cara yang sama seperti kau menyukaiku," gumam Yuri lembut, seperti sebuah helaan napas.
Dia akan mencoba memberikan apa yang diinginkan pemuda itu.
Dia masih berniat melakukannya. Saat menunggunya tadi, merasakan debar harapan yang cemas di dadanya sembari menghubungi nomor teleponnya, dia mengira hal ini tidak akan sesulit itu.
Namun sekarang, kesadaran bahwa ini mungkin menjadi upaya yang sangat sulit menjadi kian nyata.
Meski begitu...
Yuri akan tetap tinggal.
Selama Ling Xinlu menginginkannya, dia akan tetap di sini dan hidup bersamanya.
Yuri dengan lembut dan sangat perlahan mencoba melepaskan diri. Ling Xinlu tersentak, justru semakin mempererat cengkeramannya. Yuri menepuk punggungnya dengan lembut.
"Aku tidak akan pergi. Lepaskan."
Ling Xinlu tidak bergerak, seolah dia tidak mendengar atau menolak untuk mengakui perkataan itu. Dia justru mendekap semakin erat. Yuri memiringkan kepalanya, menempelkan bibirnya ke telinga yang berada begitu dekat dengan mulutnya.
Sebuah sentuhan ringan, lalu ketika Ling Xinlu tersentak namun tidak menjauh, dia ragu sejenak sebelum menggigit cuping telinganya dengan lembut.
"Apa yang kau lakukan...?" sebuah suara parau penuh tangis bergumam. Kenapa kau mencoba mengecewakanku lagi?
Yuri memindahkan bibirnya dari cuping telinga ke pelipis, lalu mengecup sepanjang tulang pipi hingga ke pipinya. Ling Xinlu tersentak pada setiap sentuhan, memiringkan kepalanya untuk memberikan akses yang lebih baik kepada Yuri.
"Kenapa kau melakukan ini... kenapa kau terus melakukan ini padaku...?" rintihnya, namun dia menyerah pada kecupan-kecupan itu, cengkeramannya sedikit melonggar.
Yuri mendaratkan kecupan terakhir pada bibirnya sebelum menarik diri dengan lembut.
Dia mundur selangkah, memberi jarak yang cukup di antara mereka.
Dia menatap Ling Xinlu, yang wajahnya masih basah oleh air mata dan matanya penuh dengan kecemasan. Kemudian dia berbalik dan berjalan masuk ke kamarnya.
Ketika dia kembali tak lama kemudian, Ling Xinlu masih berdiri disana, di dekat pintu, terpaku di tempatnya.
Yuri mendekatinya, berhenti selangkah darinya, dan menyodorkan surat kontrak tersebut.
Kontrak yang sama dengan yang diberikan Ling Xinlu kepadanya beberapa hari lalu, dengan tulisan "Seumur Hidup" pada bagian durasi. Kini, Yuri menyerahkannya kembali kepadanya.
Ling Xinlu menunduk menatap kertas itu.
Yuri Gable. Namanya, tertulis dalam huruf yang rapi dan presisi, tertera sebagai tanda tangan di bagian bawah.
"..."
Ling Xinlu menatapnya, rasa tidak percaya terpancar jelas di wajahnya, seolah dia takut akan terbangun dari mimpi jika dia menerima kontrak itu. Yuri menyodorkannya lebih dekat, mendesaknya untuk mengambilnya.
"Aku ingin memberikan ini padamu sebelum tengah malam, tapi sekarang pun belum terlambat."
"Kau tidak jadi pergi?" tanya Ling Xinlu, suaranya nyaris berupa bisikan. Kali ini, giliran Yuri yang tampak terkejut.
"Kenapa kau berpikir aku akan pergi?"
"Kau bilang... kau akan pergi. Bahwa karena kontraknya sudah habis, kau akan segera pergi, kau akan pergi dengan cepat. Bahwa kau akan pergi besok pagi..." Suaranya mengecil, nada bicaranya dipenuhi kecemasan, seolah dia menyesal telah mengatakannya.
Yuri mengerjap, menatapnya. Dia terdiam cukup lama, lalu sedikit mengernyit.
Dia ingat pernah mengucapkan kata-kata itu. Bukan kepada dia, dan bukan dengan arti yang pemuda itu tangkap, tapi dia memang pernah mengatakannya. Namun...
"Apa kau sudah di luar sana sejak saat itu?"
Meski cuaca sudah mulai menghangat, malam hari tetap saja terasa dingin. Apakah dia berdiri di lorong sepanjang waktu ini, menjaga pintu? Yuri mengernyit, raut tidak percaya muncul di wajahnya.
Kemudian, dia menghela napas. Dia menunduk menatap kontrak yang masih ada di tangannya, dan menyodorkannya lagi.
"Karena aku akan tinggal di sini mulai sekarang, aku harus kembali ke Jerman untuk membereskan beberapa urusan, tentang rumah dan segalanya."
Ling Xinlu menatapnya, suaranya kini tenang dan datar.
Berbagai emosi yang campur aduk melintas di wajahnya. Keraguan, kecemasan, dan rasa bahagia yang mulai tumbuh.
Yuri menjangkau ke belakang pemuda itu dan membuka pintu. Sambil menunjuk ke arah buket raksasa yang masih tergeletak di luar, dia bertanya, "Apakah ini untukku?" Tanpa menunggu jawaban, dia segera memungut dan mendekapnya.
Dia berjalan tertatih-tatih kembali ke ruang tamu, buket itu begitu besar hingga hampir menghalangi pandangannya.
Ling Xinlu, yang sedari tadi memperhatikannya dalam diam, mengikutinya masuk ke dalam.
Di mana dia harus meletakkan buket sebesar ini? Mereka tidak punya vas yang cukup besar untuk menampungnya.
Bak mandi sepertinya menjadi satu-satunya pilihan.
Yuri menatap buket itu, yang ukurannya berkali-kali lipat lebih besar dan lebih mewah daripada yang pernah dia gunakan untuk menghias bak mandi beberapa waktu lalu, sambil mengingat kejadian sebelumnya.
Apakah Ling Xinlu begitu bersemangat saat membeli benda semacam ini? Membawa harapan sebesar buket ini, sekaligus kecemasan yang sama besarnya.
Dan karena hancur oleh kecemasan itu, dia meringkuk di luar pintu, menghalanginya... apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya saat itu?
Yuri mengalihkan pandangan dari buket raksasa di tengah ruang tamu itu ke arah Ling Xinlu.
Pemuda itu mencengkeram kontrak di satu tangannya seolah hidupnya bergantung pada kertas itu, tatapannya terpaku pada Yuri.
"Aku akan kembali setelah menyelesaikan urusanku."
"Kau benar-benar... akan kembali?"
Yuri mengangguk mendengar pertanyaan lirih itu. Jawabannya terdengar tenang dan apa adanya, namun terasa sangat meyakinkan. Baru saat itulah ketegangan pada jemari Ling Xinlu yang memutih karena mencengkeram kontrak sedikit mengendur.
Wajahnya yang tegang karena kecemasan sempat berkerut sejenak, seolah dia akan menangis lagi, namun dia menggigit bibir dan menahan air matanya.
Dia sudah menangis begitu banyak, sekarang tidak akan ada bedanya lagi, pikir Yuri sambil tersenyum getir.
Yuri merasa dia sangat menggemaskan. Indah, menawan, dan begitu dicintai hingga rasanya hampir tak tertahankan.
"Dan kontrak itu..."
Yuri memberi isyarat ke arah kontrak di tangan pemuda itu. Dia terhenti sejenak, dan Ling Xinlu, yang mengikuti arah pandangannya ke kertas tersebut, menunggu kelanjutannya.
"Jika kau tidak lagi membutuhkan... aku... sumber hidupmu..."
Mata Ling Xinlu berkilat menunjukkan sedikit kemarahan, namun dia tetap diam dan mendengarkan dengan saksama.
"...maka anggaplah kontrak itu batal. Kumohon."
Yuri mengakhiri kalimatnya dengan tenang, menunggu tanggapan darinya.
Ling Xinlu, yang telah menyimak setiap kata dengan hati-hati, langsung menjawab seolah dia sudah membulatkan tekad.
"Tentu saja. Tapi sebagai imbalannya..."
"Sampai saat itu tiba, kau harus tetap di sisiku. Dan kau harus mencoba, seperti yang kuminta."
Yuri sedikit membuka mulutnya, namun tak ada kata yang keluar.
Bukannya dia tidak mau. Dia sudah berniat melakukannya sejak saat dia menyerahkan kontrak itu kepada Ling Xinlu.
Namun, keraguannya muncul karena dia merasa ini akan memakan waktu yang lama. Bahwa dia harus menunggu untuk waktu yang sangat lama.
Ling Xinlu, yang melihat keraguannya, sedikit mengernyit, namun suaranya melunak.
"Tidak apa-apa jika butuh waktu lama. Bagaimanapun, kita punya waktu seumur hidup. Aku bisa menunggu. Jadi, kumohon, cintailah aku."
Permohonan tambahan itu, meski terdengar mendesak, diiringi dengan rasa tidak aman; suaranya sedikit bergetar di akhir kalimat. Yuri menatapnya untuk waktu yang lama.
Rasanya aneh. Bagaimana mungkin pria yang perseptif dan cerdas ini tidak tahu? Dia begitu dicintai. Yuri akan melakukan segala daya untuk mencegahnya merasa terluka atau menderita.
Dia mengangguk pelan. Ling Xinlu, yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan darinya, mengatupkan mulut rapat-rapat melihat tanggapan itu.
Seolah dia mungkin akan menangis lagi, namun dia menahannya karena merasa hal itu akan terlihat memalukan.
Yuri tersenyum lembut. Dia menganggap setiap ekspresi di wajah Ling Xinlu begitu menggemaskan, entah saat dia menangis, tersenyum, ataupun marah.
Jadi, saat berhadapan dengan sosok yang dicintainya ini, dia tidak bisa menahan senyum; ekspresi wajahnya yang biasanya datar kini melunak.
Dia tidak menyadari Ling Xinlu sedang menatapnya tanpa berkedip, dengan tatapan yang intens.
"Kapan kau akan kembali?"
Ling Xinlu bertanya tiba-tiba sambil bersandar pada kusen pintu kamar mandi, memperhatikan Yuri yang sedang mengisi bak mandi dengan air untuk bunga-bunga itu.
Yuri menata bunga-bunga di dalam bak dengan hati-hati, memberi ruang yang cukup bagi mereka, lalu berbalik menatapnya.
"Entahlah, aku tidak yakin berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membereskan semuanya."
Dia memberikan jawaban yang tidak pasti sambil memiringkan kepala.
Dia tidak terlalu mengkhawatirkan soal apartemennya—yang kemungkinan besar akan memakan waktu paling lama—karena dia sudah memercayakannya kepada James dan seorang agen properti. Namun, mengurus tempat yang sudah dia sebut sebagai rumah sekian lama tetap saja memerlukan banyak pekerjaan.
Dia berencana menyewa orang untuk tugas-tugas yang memakan waktu, namun masih ada urusan pribadi yang harus dia tangani sendiri. Berapa lama kira-kira waktu yang dibutuhkan?
Dia berniat menyelesaikannya secepat mungkin, tetapi dia tidak bisa memberikan jangka waktu yang pasti.
Ling Xinlu menatap bibirnya dengan saksama, seolah menggantungkan harapan pada setiap kata yang diucapkan, layaknya seorang pasien yang menanti diagnosis dokter.
"Yah..." Yuri mengulanginya sambil mengedikkan bahu. Dia juga tidak berniat pergi terlalu lama. Dia berencana kembali dengan penerbangan pertama yang tersedia, bahkan penerbangan larut malam sekalipun, segera setelah urusannya selesai.
"Baiklah kalau begitu..."
Dia meletakkan buket bunga itu ke dalam bak mandi yang sudah terisi air. Rangkaian bunga raksasa itu memenuhi seluruh bak, mengubah kamar mandi menjadi taman bunga mini.
Dia menatap pemandangan indah itu dengan mata penuh kasih.
"Aku akan kembali sebelum bunga-bunga ini layu."
Dia terus mengagumi bunga-bunga itu sejenak sebelum berbalik menatap Ling Xinlu. "Terima kasih atas bunganya," ucapnya menyusul, lalu beranjak meninggalkan kamar mandi.
Ling Xinlu melirik ke arah bunga-bunga yang meluap dari bak mandi tersebut.
Tatapannya menggelap saat memandang bunga-bunga itu, banyak yang masih kuncup dan tampak begitu segar.
Dia sengaja memesan bunga yang paling segar, paling indah, dan paling tahan lama, yang layak untuk orang paling berharga dalam hidupnya. Buket itu sangat semarak dan penuh kehidupan. Butuh waktu lama sebelum bunga-bunga itu layu.
"..."
Dia membungkuk di atas bak mandi, sempat berpikir untuk mencabut sumbat airnya. Dasar bak mandi itu bahkan tidak terlihat, terkubur di bawah tumpukan bunga.
Saat dia berdiri terpaku dalam lamunannya, Yuri kembali dari kamar membawa sesuatu yang kecil. Dia menjatuhkan beberapa butir pil kecil ke dalam air. Dia tersenyum pada Ling Xinlu yang memperhatikannya dengan penuh rasa ingin tahu. "Aspirin. Kudengar melarutkan aspirin di dalam air bisa membantu bunga bertahan lebih lama."
Dia ingin buket dari Ling Xinlu ini tetap segar selama mungkin. Dia tidak menyadari tatapan kesal yang diberikan Ling Xinlu dari belakangnya.
Jauh di kemudian hari, Yuri akan mendengar Ling Xinlu berkata, "Itu adalah pertama kalinya aku benar-benar merasa kesal padamu, Tuan Gable," dan dia akan merenungkan perbuatannya. Namun, itu adalah cerita untuk lain waktu.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.