Raga - Chapter 81 - Raga - Chapter 81 - Exclusive Extra (1) – Greedy greedy darling

Perayaan ulang tahun ke-80 Ling Huolong, kepala keluarga Ling, jauh lebih megah daripada yang diperkirakan. Jeong Taeui, meski sudah sering melihat rumah-rumah mewah, tetap merasa terpana saat dia menyesap sampanyenya sembari menatap langit-langit aula yang sangat tinggi, berhiaskan kain sutra merah yang menjuntai indah.

Aula itu cukup luas untuk dijadikan lapangan sepak bola, dipenuhi meja-meja berdekorasi mewah yang sarat dengan hidangan lezat. Namun, yang lebih memukau adalah para tamunya: tokoh-tokoh politik dan bisnis internasional yang biasanya hanya terlihat di media, kini bercengkerama dengan santai layaknya tetangga sendiri.

"Wah... kalau seseorang melempar bom ke sini, dunia pasti akan kacau balau," gumam Taeui.

"Kau menikmati hari-harimu sebagai buronan internasional, ya?" sahut Kyle dengan acuh tak acuh.

Taeui mengedikkan bahu. "Hanya saja... apakah aman mengumpulkan semua orang ini di satu tempat? Rasanya sama berisikonya dengan menempatkan presiden dan wakil presiden di pesawat yang sama."

"Tidak mudah untuk melempar bom di sini. Kau lihat sendiri saat kita masuk tadi, kan?"

Benar juga. Tentara bayaran yang sedang menyapu taman, mantan prajurit pasukan khusus yang menyajikan babi panggang—bahkan jika seseorang berhasil melewati penjagaan ketat di gerbang vila keluarga Ling ini, seluruh staf di dalam pun memiliki kemampuan tempur. Hal itu membuat misi kelompok teroris mana pun hampir mustahil untuk berhasil.

"Benar-benar luar biasa," desah Taeui, mulai menyadari skala kekuatan keluarga Ling yang sesungguhnya. Dia melirik Kyle yang sedang asyik memainkan ponselnya. Sebagai pemimpin perusahaan militer terkemuka, Kyle tampak sama sekali tidak gentar dengan kemegahan ini. Atau lebih tepatnya, dia terlalu sibuk untuk memedulikannya. Jemarinya mengetuk layar dengan penuh semangat.

"Oke, kita akan bertemu besok jam dua," umum Kyle sambil menyimpan ponselnya.

"Apakah kau sudah mendapat kabar dari Tuan Gable?" tanya Taeui.

"Ya. Dia bilang datanglah ke rumahnya besok jam dua. Aku juga sudah mendapatkan alamatnya. Jaraknya sekitar 40 menit dari hotel kita."

Keluarga Ling tersohor karena koleksi artefak budaya mereka yang sangat luas, setara dengan koleksi museum ukuran menengah. Salah satu bagian di ruang penyimpanan mereka dipenuhi dengan buku-buku dan dokumen berusia berabad-abad, termasuk 42 jilid koleksi puisi dari masa sebelum Dinasti Ming yang sudah lama ingin dilihat oleh Kyle.

Baru-baru ini, Kyle menghubungi seorang mantan karyawan bernama Yuri Gable yang kini bekerja untuk keluarga Ling. Saat mendengar tentang buku tersebut, Gable berkata dengan santai.

"Jika kau ingin melihatnya, akan kubawakan ke sana."

Tampaknya dia sempat berbicara singkat dengan Ling Xinlu yang berada di dekatnya. Kyle, yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tak terduga ini, segera menghujani Gable dengan ucapan terima kasih sebelum pria itu berubah pikiran.

Di waktu yang hampir bersamaan, surat undangan ulang tahun Ling Huolong tiba. Kyle, yang awalnya berencana menghadiri forum internasional penting, segera mengubah rencananya dan memesan tiket pesawat ke Tiongkok.

James pun menggantikannya di forum tersebut, sementara Taeui ditugaskan untuk mendampingi Kyle.

"Aku? Sebagai pendamping?" Taeui menatap James dengan tidak percaya. Dia memang sesekali membantu tugas-tugas mereka, namun menjadi pendamping seseorang adalah pengalaman baru baginya. Apalagi untuk keluarga Ling.

Tidakkah mereka ingat siapa yang bertanggung jawab atas cedera mata putra bungsu kesayangan mereka? Dia tahu bahwa dendam pribadi terpisah dari urusan bisnis dan T&R serta keluarga Ling telah kembali menjalin hubungan normal, namun tetap saja...

"Apakah benar-benar tidak apa-apa jika aku pergi...?" tanya Taeui ragu-ragu sambil melirik Eli. Meskipun mereka mengabaikan fakta bahwa Taeui adalah penyebab utama cedera Ling Xinlu, mereka belum pernah bertemu lagi sejak upaya penculikan itu. Apakah Eli akan setuju jika dia bertemu kembali dengan Ling Xinlu...?

"Pergilah jika kau mau," jawab Eli di luar dugaan, tanpa nada sarkasme sedikit pun. Dia bahkan menambahkan, "Aku tidak bisa datang ke pesta Ling Huolong karena ada urusan di Rusia. Sampaikan salamku kepada Ling Xinlu karena aku tidak akan ada di sana."

Taeui merasa curiga. Mengapa Eli begitu mudah setuju? Dia ragu Ling Xinlu akan menyakitinya sekarang, dan kalaupun iya, Taeui yakin dia bisa menghindarinya. Namun, mengingat ketertarikan Ling Xinlu sebelumnya terhadap dirinya, dia mengira Eli akan keberatan.

"Sampaikan juga salamku pada Gable," tambah Eli.

"Oh, benar juga. Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku bertemu Gable. Aku dengar dia bekerja dengan Xinlu, tapi aku tidak tahu kalau dia masih disana. Kukira dia bukan tipe orang yang betah berlama-lama di satu tempat. Kondisi kerjanya pasti sangat bagus, ya?"

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan itu. Kyle, James, dan Eli menatapnya tajam.

"Kau benar-benar tertinggal informasi sejauh itu?" tanya James.

"Hah?"

"Gable dan Ling Xinlu sudah lama berkencan. Semua orang juga tahu."

Taeui terkelu. Dia terbata-bata sejenak sebelum akhirnya menghela napas. "Aku tidak akan pernah menyangka... dan aku tidak bisa membayangkan Xinlu bisa menjalin hubungan normal dalam waktu selama itu. Dia itu sedikit... berbahaya."

Kyle dan James saling berpandangan. Taeui menyadari kekeliruannya dalam berucap dan segera mengalihkan pandangan dari mereka.

James dengan lihai mengubah topik pembicaraan. "Aku sempat melihat mereka sebentar saat berada di Frankfurt. Mereka tampak sangat dekat. Bahkan mungkin, terlalu dekat."

"Terlalu dekat...?"

"Yah, Ling Xinlu tampak cukup posesif. Dia sangat waspada bahkan terhadapku, padahal aku hanya menemuinya sebentar untuk urusan bisnis. Bagaimanapun, Yuri pasti merasa nyaman karena dia memilih untuk tetap bersamanya."

James menatap Taeui. "Jadi, Taeui, kau akan pergi bersama Kyle, kan? Kau tidak perlu berbuat banyak, pastikan saja dia tidak membuat masalah."

Taeui setuju setelah berpikir sejenak. Kyle bukan tipe orang yang suka membuat masalah, selain obsesinya terhadap naskah-naskah kuno. Akan menarik juga melihat pesta orang kaya, dan dia bisa bertemu dengan kenalan-kenalan lama.

Dia merasa sedikit tidak tenang membayangkan harus bertemu Ling Xinlu lagi setelah pertemuan terakhir mereka yang canggung. Dia bertanya-tanya bagaimana rasanya nanti:
...tidak nyaman, acuh tak acuh, atau mungkin justru menyenangkan di luar dugaan. Dengan perasaan campur aduk, Taeui pun memulai perjalanan panjangnya.

Namun...

Dia bodoh karena mengira akan berpapasan dengan Ling Xinlu dengan mudah di pesta itu. Di aula yang penuh sesak, mustahil bagi seorang asisten manajer biasa untuk bertemu begitu saja dengan tuan muda kesayangan keluarga Ling.

Taeui melihat meja keluarga Ling di kejauhan. Ling Huolong duduk di tengah, diapit oleh istrinya dan putra bungsu favoritnya, Ling Xinlu. Sementara putra-putra lainnya berbaur dengan para tamu, Xinlu tetap berada di sisi ayahnya sembari menyapa para tamu yang datang memberikan selamat. Dia tampak sibuk dan sering kali memeriksa ponselnya.

"Aku bahkan tidak berani untuk sekadar menyapa," gumam Taeui.

"Ling Xinlu?" kata Kyle santai. "Kita akan menemuinya besok. Kita akan ke rumahnya pukul dua."

"Oh. Apakah Gable dan Xinlu tinggal bersama?" Mereka berdua tampak seperti tipe orang yang sangat menghargai privasi, tetapi ternyata mereka jauh lebih dekat dari yang dia duga. Di sampingnya, Kyle tampak gelisah.

"Kuharap kita bisa bertemu lebih cepat... Aku ingin tahu apakah aku bisa melihat seluruh isi buku itu..."

"Melihat semuanya? Bukankah kau hanya berencana untuk meninjau isinya saja? Ada empat puluh dua jilid. Kau tidak akan sanggup membaca semuanya meskipun kau terjaga selama beberapa malam. Apalagi buku itu ditulis dalam bahasa Mandarin, bahasa Mandarin kuno pula!"

"Karena itulah aku akan memotret setiap halamannya dan menyewa penerjemah."

Taeui terkelu. "Memotret... kau akan memotret seluruh empat puluh dua jilid itu, halaman demi halaman...?"

"Tentu saja!" Kyle mengangguk mantap.

"Bagaimana dengan hak cipta? Atau setidaknya hak pemiliknya?"

"Ini hanya untuk konsumsi pribadi!"

Taeui menyerah. "Lalu bagaimana caramu memotret empat puluh dua jilid hanya dalam beberapa jam?"

"Karena itulah aku bilang waktuku sempit! Kuharap aku bisa menemuinya lebih awal, tapi Yuri bilang dia tidak bisa. Ada sesuatu yang harus dia lakukan bersama Ling Xinlu."

"Sayang sekali," ujar Taeui, mengalihkan kembali perhatiannya ke meja di kejauhan. Ling Xinlu duduk mematung di samping ayahnya sembari menyapa orang-orang yang datang silih berganti.

Sesekali dia memeriksa ponselnya di sela-sela obrolan. Dia sudah cukup sering melakukannya. Apakah itu terkait pekerjaan? Untuk orang di posisinya, tampak tidak biasa jika dia begitu sibuk dengan komunikasi langsung seperti itu.

...Tidak, menilik dari senyum cerah yang sesekali menghiasi wajahnya yang biasanya datar saat mengetik di ponsel, sepertinya itu bukan urusan bisnis semata.

Taeui menyeruput sampanyenya sambil memperhatikan Ling Xinlu kembali ke raut wajah tanpa ekspresi setiap kali ada seseorang yang menyapanya.

Pesta yang dimulai sejak awal petang itu kini telah memasuki jam keenam. Belum ada tanda-tanda acara akan berakhir. Bahkan orang yang duduk di sudut aula paling jauh sekalipun kemungkinan besar adalah sosok penting di tempat lain, sehingga kesempatan untuk membangun jejaring sangatlah berharga.

Kyle kini tengah asyik berbincang dengan seorang pejabat tinggi dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Dia sama sekali tidak terlihat seperti orang gila yang berencana memotret empat puluh dua jilid buku milik orang lain.

Taeui ingin segera kembali ke kamar hotelnya, tetapi sebagai pendamping Kyle, dia tidak bisa pergi sendirian.

Dia melangkah keluar untuk mencari udara segar. Dia tidak menyadari bahwa area vila tersebut sangatlah luas. Di balik aula, terbentang sebuah danau yang seolah tak berujung.

Terpukau oleh skala danau buatan itu, Taeui duduk di sebuah bangku. Taman yang tenang itu memberikan ketenangan dari kebisingan pesta.

Bulan purnama menerangi langit malam, bayangannya terpantul di permukaan air danau yang tenang.

"Indah sekali," gumamnya. Akan menyenangkan jika Eli bisa melihat ini juga.

Taeui segera menepis pikiran itu. Rasanya tidak pantas membawa Eli ke acara seperti ini.

Langkah kaki dan suara pelan terdengar mendekat dari balik tikungan. Hanya satu orang, tampaknya sedang menelepon.

"...Ya, aku akan segera masuk. Aku sudah menyapa sebagian besar tamu yang harus kusapa, dan Ayah harus segera istirahat. Delapan puluh tahun adalah usia yang melelahkan untuk dijalani."

Suara itu terdengar familier.

Taeui menoleh. Sosok itu muncul dari balik tikungan.

"Iya, iya. Aku akan mengantarnya kembali ke rumah utama lalu kembali lagi. Kurasa kami akan berangkat sekitar tiga puluh menit lagi... Oh, ayolah. Aku sudah ingin pergi dari tadi. Siapa yang membuatku cemas dengan terus-menerus mengirim pesan?"

Suara dan wajah itu memang familier, namun Taeui ragu. Suara itu terdengar sangat hangat dan penuh kasih sayang.

Mata mereka bertemu. Ling Xinlu terhenti sejenak, menatap Taeui.

1.621 kata

Raga - Chapter 81 - Raga - Chapter 81 - Exclusive Extra (1) – Greedy greedy darling

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.