Taeui melambaikan tangan.
"...Ah, tidak. Seseorang memanggilku. Iya, iya. Sampai jumpa nanti. Tidurlah jika kau lelah."
Ling Xinlu mengakhiri panggilannya, melirik layar ponsel yang meredup, lalu menatap Taeui dengan senyum cerah—meski tidak sesantai nada suaranya beberapa saat yang lalu.
"Sudah lama tidak bertemu, Taeui-hyung. Aku melihatmu datang tadi, tapi aku tidak bisa meninggalkan sisi Ayah. Orang-orang terus berdatangan untuk menyapanya."
"Iya, karena itulah aku juga tidak datang untuk menyapa." Ini bukan kunjungan sosial, dan Taeui tidak akan berani menyela para tamu terhormat itu.
"Kau kelihatan sehat. Aku dengar kabarmu baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Ya. Lebih tepatnya, aku dengar si bajingan gila itu masih hidup dan belum mengacaukan lingkaran sosialmu terlalu parah." Ling Xinlu mengedikkan bahu. Tampaknya dia terus memantau kabar tentang Eli.
"Aku senang kau juga baik-baik saja. Kudengar kau sangat sibuk."
Rumor mengenai ketajaman bisnis sang macan muda keluarga Ling memang telah tersebar luas.
"Kau terus memeriksa ponselmu tadi. Pasti sibuk mengurus ayahmu dan pekerjaan."
"Ah. Itu karena Gable terus menghubungiku."
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Tidak, apa kau butuh alasan untuk menghubungi seseorang?" Suara Ling Xinlu melunak, ada nada kepuasan dalam bicaranya. Taeui merasa bingung.
Sesering itu...? Apakah Gable tipe orang yang menghubungi seseorang begitu sering tanpa alasan spesifik? Pria yang pendiam dan kaku itu? ...Yah, orang-orang memang kerap menunjukkan sisi tak terduga dalam sebuah hubungan.
"Kudengar Gable membantumu dalam pekerjaan. Kenapa dia tidak datang bersamamu?"
"Apa yang akan dia lakukan di tempat ramai seperti itu? Tidak ada gunanya dia menunjukkan wajahnya kepada semua orang."
Nada bicaranya sedikit defensif. Jika Gable adalah asistennya, bukankah seharusnya dia mendampingi Xinlu ke mana saja? Taeui memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Yah, kupikir meskipun kalian bertemu hari ini, kalian tidak akan punya banyak waktu untuk mengobrol. Lagipula kita akan bertemu besok."
Ling Xinlu menatapnya tajam. Taeui mengerjap, tidak yakin dengan maksud tatapan tersebut.
"Uh, kau sudah tahu, kan? Kami diundang ke rumahmu besok sore untuk bertemu Gable. Kyle ada urusan dengannya."
Jika mereka tinggal bersama, mustahil Xinlu tidak tahu. Ling Xinlu mengangguk.
"Ya, aku sudah dengar. Kuharap aku bisa ada di sana, tapi aku punya janji yang tidak bisa dibatalkan besok sore. Aku baru akan kembali malam harinya."
"Tidak apa-apa, selesaikan saja urusanmu. Aku akan mengobrol dengan Gable nanti."
Tatapan tajam itu kembali. Taeui bertanya-tanya apakah ada sesuatu di wajahnya.
"Taeui-hyung. Kau tahu kan kalau aku dan Gable sedang berkencan?"
Taeui menatapnya, terpana oleh pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"...Ya, aku sudah dengar."
"Begitu. Baiklah, kalau denganmu, Taeui-hyung..." Kalimatnya menggantung, tatapannya meneliti Taeui layaknya sebuah mesin. Dia seolah sedang memperhitungkan sesuatu. Kemudian dia tersenyum.
"Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Khawatir...?"
"Yah, kau tahu sendiri, hal tak terduga bisa saja terjadi di dunia ini. Dan semakin penting sesuatu, kau harus memeriksanya dengan lebih teliti dan menaruh perhatian lebih besar."
Sebelum Taeui sempat mencerna pernyataan penuh teka-teki itu, seseorang memanggil nama Ling Xinlu dari kejauhan.
"Aku harus pergi. Sampai jumpa besok, Taeui-hyung. Aku akan berusaha kembali secepat mungkin. Terima kasih sudah datang ke perayaan ulang tahun ayahku hari ini."
Ling Xinlu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Taeui mengembuskan napas lega, atau mungkin sesuatu yang lain, sembari menatap punggung pemuda itu hingga menghilang dari pandangan.
Sikap Ling Xinlu sangat sopan, seolah tidak ada lagi perasaan yang tersisa dari masa lalu. Kilatan permusuhan hanya muncul di matanya saat ia menyebut "bajingan gila itu", namun selain itu, ia sangat ramah—begitu ramah hingga terasa hambar dan semu.
Rasanya seperti seseorang yang dulunya teman, kini hanyalah sebatas kenalan.
Taeui menatap ruang kosong tempat Ling Xinlu berdiri tadi, lalu mengalihkan pandangannya ke danau yang tenang. Cahaya rembulan masih berkilauan di atas permukaan air.
Dia terkekeh pelan.
Baguslah. Ling Xinlu tampak baik-baik saja.
Jalan-jalan santai Taeui di pagi hari terhenti oleh panggilan dari Kyle. Dia segera kembali ke hotel setelah Kyle mendesaknya untuk bergegas dan makan siang. Kyle bertingkah seolah dia akan mati jika mereka tidak tiba di tempat pertemuan tiga puluh menit lebih awal.
Meski mereka terburu-buru, mobil yang dikirim oleh Ling Xinlu tiba tepat waktu, dan mereka sampai di tujuan tepat pukul dua siang.
Distrik yang baru dikembangkan di pinggiran kota itu merupakan kawasan permukiman keluarga muda yang kaya raya. Rumah-rumah mewah bergaya modern berdiri di atas lahan-lahan yang luas.
Tempat ini tampak sederhana jika dibandingkan dengan vila keluarga Ling. Saat memasuki gerbang, mereka melihat Gable sedang duduk di bawah pohon pinus putih dekat pintu masuk. Dia tadinya sedang sibuk dengan ponselnya, namun segera berdiri saat mereka mendekat.
"Sudah lama tidak bertemu, Kyle. Taeui, bagaimana kabarmu?"
Taeui menjabat tangan Gable, merasa kagum karena pria itu hampir tidak berubah sejak masa-masa mereka di Seringe.
Mereka menyusuri lorong panjang menuju ruang tamu yang luas. Sebuah dinding lipat terbuka ke arah taman tersembunyi, mengalirkan semilir angin yang menyegarkan ke dalam ruangan.
Sinar matahari menyinari taman, tempat sebuah kolam renang besar sedang diisi air secara perlahan. Menyadari arah pandangan Taeui, Gable menjelaskan, "Kolamnya baru saja dibersihkan dan diisi ulang, jadi kau belum bisa masuk ke sana."
"Oh, bukan begitu... Aku hanya berpikir betapa kau masih tampak sangat menyukai air," Taeui tersenyum, teringat kebiasaan Gable berenang di laut saat pagi buta di Seringe.
Sementara itu, Kyle melihat tumpukan buku tua di meja ruang tamu dan berseru kegirangan.
"Ya Tuhan! Koleksi lengkap puisi kuno yang disusun oleh Jin Yiso! Ini... ini barang asli!"
Dia bergegas menghampiri buku-buku itu, matanya berbinar saat dia memeriksanya dengan teliti. "Empat puluh dua jilid! Semuanya lengkap! Ya Tuhan!" Dia memeriksa jam tangannya, mencoba meredam kegembiraannya sejenak. "Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku memotret buku-buku ini untuk penelitian di masa mendatang?"
"Ya, silakan," jawab Gable dengan sigap, seolah dia sudah menduga hal ini akan terjadi.
Entah dia sudah mengantisipasi bahwa Kyle akan memotret setiap halaman dari empat puluh dua buku itu atau tidak, tidak ada yang tahu. Dia mengamati ketelatenan Kyle saat memotret dengan ekspresi yang agak bingung, namun tetap diam saja.
Taeui duduk di meja, mengamati sekeliling ruangan sementara Kyle asyik dengan buku-bukunya. Suasana rumah terasa sunyi, hanya terdengar suara air dari taman. Sebuah hiasan dinding kayu ukir yang besar mendominasi ruang tamu, menggambarkan seekor harimau yang duduk dengan tenang seolah sedang mengawasi ruangan tersebut. Tampaknya hiasan itu melambangkan jiwa sang pemilik rumah.
"Apakah ada makanan yang tidak bisa atau tidak suka kau makan?" tanya Gable sambil membuka serangkaian wadah berisi berbagai makanan lezat. Sebuah ketel tampak mengeluarkan uap di samping mereka.
"Tidak, aku makan apa saja. Tapi, apakah tidak ada staf lain di sini?"
"Mereka datang di pagi hari lalu pergi. Baik Xinlu maupun aku tidak suka ada orang lain di dalam rumah."
Gable menuangkan teh untuk Taeui dan Kyle, meski Kyle bahkan tidak mendongak dari pekerjaannya. Taeui mencicipi kue persegi yang tampak polos dan memperhatikan Gable menangani teko teh dengan kemahiran yang terlatih.
"Kau sangat terampil menggunakan teko itu."
"Aku sudah tinggal di sini cukup lama."
Gable tampak seperti bagian dari ruang pribadi yang tenang ini, sama halnya dengan harimau di dinding itu.
Dia mengambil ponselnya, seolah sudah menjadi kebiasaan. Taeui memperhatikannya mengutak-atik benda itu, yang mengingatkannya pada seseorang.
"Aku melihat Xinlu kemarin di pesta keluarga Ling," Taeui memulai pembicaraan.
Gable mengangguk.
"Ya, aku dengar. Kau tidak bisa bicara dengan leluasa karena ada terlalu banyak orang di sana."
"Benar. Ramai sekali. Xinlu tampak sangat sibuk... Aku mengira kalian akan datang bersama karena kudengar kau membantunya bekerja, jadi aku sedikit kecewa."
Dia tidak menyebutkan bagian tentang Kyle yang bersikeras memajukan jadwal pertemuan mereka, namun Gable tampaknya mengerti, menilik dari caranya melirik ke arah Kyle.
"Ah... begini, Ling Xinlu tidak suka aku berada di tempat ramai, dan ibunya juga tidak terlalu merestuiku, jadi aku berusaha menghindari acara kumpul keluarga."
Taeui tertegun sejenak. Dia membayangkan sebuah adegan dramatis yang muncul layaknya drama pagi Korea: "Berani-beraninya kau menggoda putraku?!"
"Tidak, Ibu, tidak seperti itu..."
Dia menggelengkan kepala. Sepertinya dia terlalu banyak menonton drama Korea akhir-akhir ini.
"Apakah itu karena kau mengencani putra bungsu keluarga Ling?" sela Kyle, yang rupanya ikut menyimak percakapan mereka meski sedang asyik dengan buku-bukunya.
Taeui seketika merasa terpojok.
"Saat aku bertemu Ling Tangyun tahun lalu untuk urusan pekerjaan, kami sempat berbincang singkat soal keluarga. Ling Tangyun tampaknya tidak keberatan dengan hubungan kalian.
Beliau malah terlihat senang karena putra bungsunya sudah lebih tenang berkat dirimu. Apakah anggota keluarga yang lain berbeda?"
Cara santai Kyle mengangkat topik yang berpotensi sensitif itu membuatnya seolah-olah bukan masalah besar. Itu adalah salah satu kemampuan Kyle yang luar biasa; dia melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa prasangka. (Itulah alasannya dia bisa memiliki saudara seperti Rick, begitu menurut ucapan Christoph suatu waktu.)
"Tergantung... awalnya beberapa orang memang merasa tidak nyaman, tapi sekarang sudah baik-baik saja. Meski begitu, masih ada beberapa orang yang belum sepenuhnya senang dengan hal ini."
Jawaban Gable terdengar sama santainya. Taeui memutuskan untuk mengikuti arus percakapan mereka.
"Selain ibunya? Ayahnya juga?"
"Tidak, ayahnya sebenarnya tidak keberatan. Ini lebih kepada keponakan-keponakannya..."
"Keponakan? Mengapa keponakannya harus peduli?" cibir Kyle.
Gable menyesap tehnya. Ponselnya berbunyi. Ia memeriksa waktu dan mengirim sebuah pesan singkat. Balasan datang hampir seketika, dan mereka saling bertukar beberapa pesan lagi.
Proses pemotretan Kyle berjalan cepat, meskipun masih banyak tumpukan buku yang tersisa. Taeui memperhatikan matahari yang mulai terbenam di atas taman. Kolam renang sudah hampir penuh.
Gable meletakkan ponselnya. "Permisi sebentar."
"Bagaimana dengan mata Xinlu?" tanya Taeui, sambil menatap pantulan cahaya matahari pada permukaan air.
"Masih sama. Dia merawatnya dengan baik, jadi penglihatan mata kanannya membaik, tapi mata yang terluka belum pulih. Kami tidak mengharapkan adanya kemajuan lebih lanjut, namun dia tetap melanjutkan pengobatan atas permintaan ibunya.”
“Biasanya, hanya menggunakan satu mata akan membebani mata tersebut dan memperburuk penglihatan, jadi beruntung mata sehatnya terjaga dengan baik."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.