Raga - Chapter 84 - Raga - Chapter 84 - Exclusive Extra (1) - Greedy greedy darling

Sebuah suara riang mendekat dari arah taman.

Gable tersentak. Taeui pun ikut tersentak.

Seekor harimau.

Seekor harimau telah muncul.

Mungkin dialah model bagi ukiran harimau yang ada di dinding itu.

"Oh, kolamnya sudah penuh. Kukira baru akan penuh nanti malam."

Ling Xinlu muncul dengan suara yang ceria.

"Apakah kalian menikmati obrolannya? Maaf aku tadi pergi sebentar. Ada urusan mendesak yang tidak bisa kutinggalkan."

Dia menjabat tangan Kyle dengan senyum ramah yang terpahat sempurna di wajahnya, lalu mengangguk ke arah Taeui. "Kau kembali lebih cepat dari dugaanku."

"Ya. Urusannya tidak begitu rumit, dan aku penasaran cerita seru apa yang kalian bertiga bagikan tanpaku, jadi aku menyelesaikannya secepat mungkin. Mengapa? Apa kalian sedang membicarakan sesuatu yang tidak boleh kudengar?" Dia menarik Gable mendekat dan mengecupnya ringan, matanya menyipit membentuk senyuman.

Taeui sudah memikirkan hal yang sama kemarin, namun kedewasaan yang bertambah membuat sosok itu tampak jauh lebih menawan. Jika dia harus menilai hanya berdasarkan preferensi wajah, dia pasti akan terpikat pada wajah seperti itu... Taeui segera menepis pikiran tersebut, seolah dia baru saja mendengar suara samar yang geli berbisik, Aha...

Meski hanya ada satu orang baru yang bergabung, suasana santai dan nyaman tadi seketika sirna, berganti dengan hawa yang lebih tegang dan serius.

Basa-basi formal dan pembicaraan bisnis pun terjalin antara Kyle dan Ling Xinlu.

Taeui merasa takjub (meskipun dia sudah mulai terbiasa sekarang) melihat transformasi Kyle, dari seorang gila yang terobsesi pada buku menjadi seorang pebisnis yang tenang dan cakap. Dia melirik Gable, yang tengah menatap Ling Xinlu dengan pandangan yang penuh kekaguman serupa.

Mata mereka bertemu sejenak, dan Gable tersenyum kecut sambil memalingkan wajah. Ling Xinlu pun pastinya memiliki sisi lain yang tersembunyi di balik penampilan luarnya yang sempurna itu.

"Jadi, apakah kalian menikmati waktu melepas rindu dengan Gable setelah sekian lama?"

Ling Xinlu akhirnya beralih kepada mereka setelah urusan formalitas selesai, nada bicaranya santai. Kyle menatap penuh penyesalan pada buku yang terpaksa dia letakkan, padahal tinggal beberapa halaman lagi menuju akhir.

"Ya, kami mengobrol dengan menyenangkan dan aku sangat menikmati buku ini. Ayahmu memiliki koleksi yang sungguh luar biasa. Aku iri padanya. Aku belum selesai membacanya..."

Dia menatap rindu pada buku yang baru selesai dibaca setengahnya itu. Ling Xinlu dengan segera memberi isyarat agar dia melanjutkan.

"Silakan, selesaikan saja bacaanmu."

Kyle dengan senang hati kembali asyik dengan bukunya seolah memang sedang menunggu izin. Tatapan Ling Xinlu beralih ke arah Taeui. Perubahan halus tampak melintas di wajahnya, sekelumit emosi manusiawi menggantikan senyuman yang menyerupai topeng tadi. Taeui tidak bisa benar-benar mengartikannya, dan dia merasakan sedikit kegelisahan.

Jika itu adalah rasa sayang, kerinduan, atau kebencian, dia pasti akan mengerti. Namun, perasaan itu tampaknya lebih mendekati keragu-raguan, kewaspadaan, kecemasan... Tapi mengapa?

"Um... apa yang kalian berdua bicarakan tadi?" tanya Ling Xinlu, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, dengan sedikit nada ragu dalam bicaranya.

Secara insting, Taeui menoleh ke arah Gable, yang berkedip seolah tampak terkejut. Mata mereka bertemu.

Mungkin karena nada bicara Ling Xinlu yang lembut, seolah mendesak mereka untuk berterus terang, atau mungkin karena tatapan menyelidiknya, namun mereka merasa seakan-akan sedang menyembunyikan suatu rahasia, padahal sebenarnya tidak.

"Bukan apa-apa... kami tidak membicarakan sesuatu yang istimewa...?" gumam Taeui, merasa bersalah tanpa alasan yang jelas di bawah tatapan intens Xinlu. Sungguh aneh. Mengapa dia merasa seolah-olah sedang dicurigai?

"Kami hanya mengobrol tentang hal-hal pribadi, saling mengenal, membangun kedekatan, kau tahu sendiri lah."

Ling Xinlu mengangguk seolah mengerti. "Jangan lakukan itu, Hyung."

"Hah?"

Ling Xinlu tersenyum manis, namun ekspresinya tampak tegas.

"Jangan menjadi dekat. Kalian berdua adalah orang baik, cukup menarik sehingga tidak akan aneh jika salah satu dari kalian jatuh hati pada yang lain. Jadi, jangan menjalin hubungan yang dekat."

Kata-katanya terdengar seperti gurauan, namun tatapannya tidak menunjukkan kesan memuji ataupun bercanda.

"Jadi? Hal pribadi macam apa yang kalian bicarakan?" Ling Xinlu bertanya lagi sambil tersenyum cerah.

"Menurutmu apa yang kami bicarakan?" sela Gable dengan tenang. Senyum Ling Xinlu memudar saat dia melirik ke arah Gable.

"Yah... kalian berdua tidak punya banyak kesamaan, dan jika itu berkaitan dengan Gable, kemungkinan besar itu tentang aku..." Kalimatnya menggantung, lalu tiba-tiba dia mempertajam tatapannya.

"Bicara soal itu, bukankah tadi kau mengatakan sesuatu tentang tidak membicarakan suatu hal saat aku ada di sini?"

Gable tersentak. Ling Xinlu tidak melewatkan kesempatan itu.

"Sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang tidak ingin kudengar?"

"...Bukan sesuatu yang tidak bisa kukatakan padamu."

"Lalu apa itu?"

Alih-alih menjawab, Gable malah menjejalkan sekeping kue besar ke dalam mulutnya. Ling Xinlu menatapnya tajam, lalu beralih kepada Taeui.

"Oh, tidak, sungguh, kami tidak membicarakan sesuatu yang istimewa. Hanya basa-basi biasa, seperti 'Kau kelihatan sehat,' 'Kau tidak berubah,' 'Senang kau baik-baik saja,' hal-hal semacam itu."

"Hmm...?" Taeui bergumam mengelak, mencoba membaca reaksi mereka.

Ling Xinlu tampak berpikir, matanya melirik silih berganti antara Gable dan Taeui. Saat tatapannya kembali tertuju pada Gable, dia seolah-olah telah menebak topik pembicaraan mereka. Ekspresi cerianya seketika sirna.

"Kau benar. Gable memang benar-benar tidak berubah. Dia masih sama persis seperti saat pertama kali kita bertemu. Malah, dia terlihat jauh lebih muda." dia mengamati wajah Gable dengan saksama, tatapannya tajam dan hampir terasa memusuhi.

"Seharusnya kau menua dengan anggun, mengapa kau terus terlihat begitu..."

"Aku akan menua sekaligus suatu hari nanti," potong Gable.

"Sungguh. Aku akan menua secara mendadak."

Ling Xinlu menatapnya, lalu meringis. Dia beralih kepada Taeui. "Bagaimana denganmu, Hyung? Apakah kau baik-baik saja? Kudengar kau hampir mati karena bajingan itu."

Taeui, yang sedari tadi merenungkan untung-ruginya memiliki kekasih yang berwajah awet muda, tersentak kembali ke realita oleh serangan mendadak itu.

"Yang mana? Saat aku hampir mati di Thessaloniki musim panas lalu? Atau saat di Gdansk dua musim dingin yang lalu? Atau di Casablanca? Atau sesuatu sebelum itu? Selain kejadian-kejadian tadi, aku baik-baik saja."

Ling Xinlu menatapnya dengan tercengang, lalu tertawa hambar, nada ketajaman dalam suaranya seolah perlahan surut.

"Apakah kau punya penyesalan? Seperti, 'Andai saja aku tidak memilihnya dulu'..."

Mata Ling Xinlu, yang menyipit dalam senyuman tipis, seolah bertanya apakah Taeui pernah memikirkan hal itu.

Saat itu. Ketika dia memunggungi kemarahan Ling Xinlu dan menyambut tangan Ilay.

Seandainya dia tidak melakukan itu.

Taeui membalas tatapan Xinlu yang masih dipenuhi kebencian, lalu menghela napas, tiba-tiba merasa lelah.

"Hmm... ada kalanya aku bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan dengan hidupku... tapi aku tidak pernah berpikir bahwa hidupku akan lebih baik jika aku tidak bertemu dengannya, atau jika aku mengambil pilihan yang berbeda."

Dia tidak bisa berbohong atau memberikan jawaban setengah hati. Dia berutang kejujuran pada Ling Xinlu.

Dia memijat bahunya, tenggelam dalam pikiran sejenak, lalu mendongak dan menatap langsung ke mata Ling Xinlu.

"Tapi aku memang sesekali memikirkanmu. Berharap kau baik-baik saja. —Bagaimana denganmu? Seandainya dulu kau tetap menahanku di sisimu. Seandainya kau menjalani hidup yang berbeda. Menurutmu akan seperti apa jadinya?"

Seluruh ekspresi sirna dari wajah Ling Xinlu. Guratan wajahnya yang membeku berkedut, hampir tak kasatmata.

Tentang apa yang mungkin dia dapatkan.

Dan apa yang harus dia korbankan sebagai imbalannya.

"...Aku tidak menyukainya," ucapnya, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum dia sempat menyadarinya. "Aku menyukai hidupku yang sekarang. Aku menyukai apa yang kumiliki. Aku tidak akan pernah menukarnya dengan apapun."

Api kegelapan berkilat di matanya. Dia mencengkeram lengan Gable, menatap tajam ke arah Taeui—atau mungkin pada kemungkinan lain yang bisa saja menjadi jalan hidupnya. Campuran antara kewaspadaan dan kemarahan yang sengit serta menakutkan memenuhi udara.

Namun, ketegangan itu mencair seketika saat tatapannya bertemu dengan mata Gable. Dia condong ke depan dan menciumi pipi Gable berulang kali, senyum jenaka kembali menghiasi wajahnya.

Ling Xinlu bersandar kembali ke sofa, menatap Taeui dengan santai. "Masih ada hal-hal yang membuatku kesal, pekerjaan dan semacamnya. Ada banyak orang yang ingin kuhapus dari hidupku. Tapi aku tetap menyukai apa yang kumiliki. Aku memiliki kehidupan dengan apa yang paling penting bagiku." Suaranya tenang, wajahnya bersih dari kepura-puraan apapun.

"Aku menginginkanmu dulu, Hyung, dan aku masih menganggapmu orang baik, dan rasanya mual sekali membayangkan bajingan gila itu bahagia bersamamu, tapi tetap saja—terima kasih karena telah meninggalkanku saat itu."

Rasa terima kasihnya, yang disampaikan dengan senyum tipis dan nada bercanda, terasa tulus.

Ekspresi Taeui berubah halus saat dia menatap wajah Xinlu yang jujur itu.
Jadi, dengan kata lain,

Maknanya tetap sama.

"...Ya, baiklah," Taeui terkekeh, menerima ucapan terima kasih itu dengan nada angkuh yang dibuat-buat.

Rasa geli menyelimutinya, menghapus sisa-sisa terakhir rasa bersalah yang selama ini mengendap di hatinya.

Jadi begitulah adanya. Karena dirinya, Xinlu menjadi lebih bahagia. Sama seperti dia sekarang.

Hidup mengalir seperti itu. Apa yang dulu sangat kau inginkan, jika dilihat kembali, ternyata adalah sesuatu yang tidak seharusnya kau miliki. Atau apa yang dulu kau anggap sepele, atau apa yang sangat ingin kau hindari, ternyata menjadi bagian terpenting dalam hidupmu.

Taeui merasa benar-benar lega.

Baguslah. Kau tidak terjebak oleh tipu daya kehidupan, dan kau mendapatkan apa yang benar-benar kau butuhkan.

Tak lama setelah kepulangan Ling Xinlu, koki yang mereka panggil pun tiba. Makan malam mewah disajikan, dan Kyle—yang sudah selesai (?) membaca bukunya—duduk di meja makan dengan raut wajah penuh kepuasan. Akhirnya, mereka semua menempati posisi masing-masing sebagai tuan rumah dan tamu.

Kyle, meskipun terkadang berpura-pura tidak peka (terutama jika berkaitan dengan buku antik atau saat menghadapi James yang sedang murka), sebenarnya sangat perseptif. Dia tampaknya telah memahami apa yang paling bisa menyenangkan hati Ling Xinlu sebagai imbalan karena telah meminjamkan buku-buku berharga tersebut. Sepanjang makan malam, dia menghibur Xinlu dengan cerita-cerita tentang masa lalu Yuri.

1.563 kata

Raga - Chapter 84 - Raga - Chapter 84 - Exclusive Extra (1) - Greedy greedy darling

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.