Cerita-cerita itu hanyalah anekdot sehari-hari yang sepele—seperti saat Yuri hampir tertipu ketika membeli mobil bekas, atau saat dia tampak layu meski diberi makanan bergizi karena Kyle mengirimnya bekerja ke daerah yang gersang, atau saat dia mencukur janggut samarannya setelah sebuah misi namun malah jadi semakin sulit dikenali—tetapi efeknya luar biasa.
Ling Xinlu mendengarkan dengan penuh minat, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas cerita-cerita yang menghibur itu, dan berjanji akan mengirimkan beberapa buku tua dari ruang kerja Ling Huolong kepada Kyle. Tak perlu dikatakan lagi, Kyle bereaksi dengan sangat gembira saat mendengar judul-judul buku tersebut.
Demikianlah, mereka menyelesaikan makan malam yang memuaskan (kecuali bagi Yuri, yang masa lalunya yang kurang menyenangkan telah dibongkar), dan pada saat Kyle dan Taeui berpamitan, langit sudah benar-benar gelap.
Setelah mengantar mereka pergi, suasana rumah kembali hening.
Biasanya memang sesunyi ini, karena hanya Yuri dan Ling Xinlu yang tinggal disana, namun absennya tamu-tamu mereka yang meriah membuat suasana terasa sangat sunyi. Desis dedaunan yang tertiup angin dan derik serangga terdengar jauh lebih jelas dari biasanya.
Yuri menarik kursi dari meja teras ke tepi kolam, menjulurkan kakinya hingga ujung jemarinya menyentuh air.
Lampu taman terpantul di permukaan kolam. Dia menggerakkan jemari kakinya, menciptakan riak yang membuyarkan pantulan cahaya itu. Sambil menikmati suara air yang samar dan sensasi dingin di kulitnya, dia bersandar di kursi, akhirnya merasa hari yang panjang ini telah usai.
Ling Xinlu muncul dari dalam rumah dengan dua cangkir sake hangat, menyerahkan salah satunya kepada Yuri dan duduk di sampingnya.
"Mengapa kau hanya menjuntaikan kakimu di sini alih-alih masuk ke dalam?"
"Aku menunggumu agar kita bisa masuk bersama."
Ling Xinlu terhenti di tengah sesapan sakenya, menatap Yuri dengan ekspresi yang sedikit bingung, lalu tersenyum seperti anak laki-laki; tatapannya tertuju ke tanah dengan malu-malu karena senang. Yuri berpikir bahwa sosok itu benar-benar menggemaskan.
Dia telah menahan keinginannya untuk melompat ke dalam air, menunggu saat seperti ini, ingin melihat ekspresi tersebut muncul di wajah Xinlu.
Yuri merasa cukup tertekan belakangan ini karena persiapan pesta, dan dia belum sempat berenang sejak kemarin. Dia ingin membasuh rasa lelahnya, namun dia memilih untuk bersabar.
Ling Xinlu sangat suka berenang bersamanya, terutama di kolam yang baru saja diisi air segar.
"Mari kita minum ini lalu masuk ke kolam bersama. Ini jenis baru yang sedang kucoba. Aromanya sangat harum."
Sake yang ditawarkan Ling Xinlu—yang selalu bersemangat membagikan segala hal baik dengannya—memiliki keharuman yang pekat dan menghangatkan tenggorokannya.
"Kau tidak seharusnya berenang setelah minum," gumam Yuri sambil menyesapnya beberapa kali, terpikat oleh aromanya.
Sake itu terasa sangat manis, baik karena kualitasnya maupun karena rasa lelah yang telah menumpuk dalam diri Yuri.
Ling Xinlu secara umum adalah kekasih yang baik. Perhatian, penuh pertimbangan, dan sangat setia. Dan Yuri mencintainya sepenuh hati sebagai balasannya.
Namun demikian, karena perbedaan kepribadian yang mendasar, Yuri terkadang—atau lebih tepatnya, sering kali—merasa bingung.
Sebagai contoh, ada sebuah insiden tahun lalu.
Pada akhir tahun lalu, Ling Xinlu menghadiri acara kumpul-kumpul dengan teman-teman kuliahnya di sebuah villa di luar kota.
Itu bukan sekadar pertemuan santai dengan kawan lama; itu adalah acara jejaring yang penting dengan anggota klub sosial eksklusif yang terdiri dari anak-anak kaum elit.
Yuri telah berpesan pada Ling Xinlu untuk bersantai dan menikmati waktunya, serta menahan diri untuk tidak menghubunginya agar tidak mengganggu. Dia menghabiskan hari itu dengan berenang dan membaca santai.
Masalah muncul ketika Ling Xinlu kembali keesokan harinya. Yuri, yang sedang berenang, muncul ke permukaan dan mendapati Xinlu berdiri di tepi kolam sambil memperhatikannya. Dia berenang ke tepian lalu berhenti setelah menyadari ekspresi gelap di wajah Xinlu.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
Ling Xinlu menatapnya, lalu perlahan menggelengkan kepala.
"...Tidak, tidak terjadi apa-apa. Aku hanya sedikit lelah."
"Benarkah? Mungkin karena kau baru saja pergi bersama teman-teman sekelasmu. Kau harus istirahat lebih awal hari ini."
Yuri mengecup pipinya lalu berbalik untuk mengeringkan diri dengan handuk. Ling Xinlu memperhatikannya, lalu tiba-tiba bertanya, "Bagaimana denganmu, Gable?"
"Ya?"
"Apakah kau bersenang-senang selama aku pergi?"
"Ya? Ya, tentu saja... aku berenang, membaca, menjalani hari seperti biasa."
Yuri menjawab dengan bingung melihat wajah muram Ling Xinlu. Dia tidak mungkin mengalami kejadian luar biasa sendirian di rumah hanya dalam sehari. Namun, ekspresi Xinlu jelas menunjukkan kegelisahan...
"Ya, aku beristirahat dengan baik. Tapi, Xinlu, apakah ada sesuatu..."
Tepat saat Yuri hendak bertanya, wajah Ling Xinlu semakin menggelap, dan dia akhirnya meledak, "Bagaimana bisa kau sama sekali tidak menghubungiku?!"
Yuri tertegun oleh tuduhan yang tidak terduga itu, hingga sesaat dia lupa apa arti kata "menghubungi."
"Iya...? Menghubungi...? Aku, aku sudah melakukannya... tadi malam, sebelum tidur..."
"Kau hanya mengirim satu pesan selamat malam! Dan saat aku membalasnya dengan mengatakan bahwa aku merindukanmu, kau hanya menjawab, 'Iya, selamat malam, sampai jumpa besok'! Tidakkah kau merindukanku?"

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.