The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 81

Dia berhenti merokok sejenak setelah mendengar ucapanku. Dengan filter rokok—yang basah oleh air liur kami berdua—masih terapit di antara bibirnya, dia tampak sedang menelusuri kembali setiap kasus pembunuhan anak yang pernah ditanganinya secara langsung di dalam benaknya.

Pandangannya menerawang ke sudut atas, lalu perlahan kembali turun. Ketajaman yang tiba-tiba terpancar dari sorot matanya terasa seolah mampu menembus tubuhku, namun aku terus berbicara, berpura-pura bahwa jantungku tidak berdebar kencang.

"Orang tua biasanya membunuh anak mereka di rumah mereka sendiri, dan karena mereka juga harus mengambil peran untuk menemukan jasadnya dan melaporkannya sendiri, beban psikologis yang ditanggung sangatlah besar. Itulah sebabnya mereka enggan menemukan jasad sang anak sendirian. Mereka ingin menyiapkan saksi lain yang kelak akan memberikan pernyataan bahwa mereka melihat jasad anak tersebut untuk pertama kalinya. Akibatnya, mereka sering kali menyeret kerabat atau tetangga sebagai saksi. Dibandingkan dengan pembunuh lainnya, mereka cenderung merasakan rasa bersalah yang lebih besar, sehingga terkadang mereka takut untuk menghadapi jasad anak-anak mereka sendirian."

"...Kau benar."

Jaksa Joo mengangguk pelan. Itu adalah ungkapan yang hanya dia gunakan ketika aku memberikan jawaban yang tepat. Sepasang mata yang sempat menerawang jauh sejenak itu kini menatap lurus ke arahku.

"Kalau begitu, hal ini juga menjelaskan alasan dia mengajak kakak perempuannya, berdalih bahwa mereka harus minum kopi pada pukul 11 malam. Masuk akal pula mengapa dia membuat alasan aneh tentang keinginannya memperkenalkan sang kakak kepada suaminya, padahal hubungan pernikahan mereka sendiri sedang buruk. Dia pasti tidak ingin menghadapi jasad anak-anaknya sendirian."

"Jaksa, sedari awal kau sudah mencurigai gelagat Han Sujin yang membawa kakak perempuannya ke rumah itu, bukan?"

Suara Jaksa Joo kembali membalas pertanyaanku.

'Nona Han Sujin, mengapa Anda datang ke rumah itu bersama kakak perempuan Anda?'

Aku ingat betul pertanyaan yang pernah dia ajukan kepada Han Sujin itu. Aku pun merasa penasaran.

"Jaksa, apakah sedari awal kau sudah menaruh kecurigaan pada Han Sujin?"

"Aku tidak bisa seyakin itu, jadi aku menganggap kemungkinannya lima puluh banding lima puluh antara Ahn Dongjin dan Han Sujin. Motif Lee Hyunsu untuk melakukan pembunuhan itu terlalu lemah."

"Benar juga. Lagipula, pasangan suami-istri itu akan mendapatkan uang asuransi jiwa jika anak-anak mereka meninggal."

"Tepatnya sebesar 150 juta won. Itulah sebabnya Han Sujin ikut serta saat mereka pergi ke kediaman Lee Hyunsu. Jika Ahn Dongjin adalah pelakunya, tidak ada alasan baginya untuk membawa serta sang istri. Dia juga tidak perlu repot-repot membeli buah tangan seperti semangka—yang bahkan tidak sesuai dengan musimnya—hanya demi menciptakan alasan agar bisa menyentuh pisau besar. Apalagi itu adalah rumah teman yang sudah sering mereka kunjungi."

Jaksa Joo mematikan rokok tersebut, yang dengan cepat memendek karena kami isap berdua, lalu membuang puntungnya ke dalam tempat sampah besi yang berdiri di sudut.

Kami kembali ke Kantor Cabang Danhyeon dan menyantap makan malam yang terlambat di kantin. Karena hari sudah larut, hampir tidak ada orang di kantor cabang tersebut. Belakangan ini, cukup banyak waktu telah berlalu sejak penunjukan personel, sehingga tatapan orang-orang tidak lagi setajam sebelumnya. Namun tetap saja, rasanya lebih nyaman jika bisa menghindari pertemuan dengan orang-orang dari bagian denda sebisa mungkin.

Di Ruangan Jaksa 512, entah mengapa, Kepala Song masih berada di sana. Karena waktu sudah menunjukkan lewat pukul delapan malam, aku mengira dia sudah pulang, jadi aku menyapanya dengan gembira.

"Kepala Song! Seandainya aku tahu Anda ada di sini, aku pasti sudah mengajak Anda makan malam bersama. Anda sudah makan?"

"Ya, sudah. Aku masih di sini karena ada jadwal pemeriksaan saksi malam ini. Mereka bilang bisa datang pukul delapan. Mereka agak terlambat."

Merasakan tatapan lekat yang tertuju padaku, aku menoleh ke arah jendela. Sorot mata Jaksa Joo, yang sedang berdiri di depan mejanya sambil menatapku lekat-lekat, terlihat cukup tajam.

Apakah dia bersikap seperti itu karena aku tidak segera kembali bekerja dan malah bersantai sejenak? Mengingat kami telah sibuk sepanjang hari, wajar jika orang berpikir obrolan singkat dengan rekan kerja bisa dimaafkan.

Aku sedikit menggerutu dalam hati, tetapi karena menyadari suasana yang kurang mengenakkan, aku segera menutup mulut dan kembali ke tempat dudukku.

Sementara Kepala Song menemui saksi untuk meminta keterangan, Jaksa Joo dan aku memeriksa rekaman CCTV bersama-sama di mejanya. Namun, bertolak belakang dengan kesaksian sang pemilik toko, Han Sujin sama sekali tidak muncul dalam rekaman sehari setelah ritual perdukunan itu. Karena hal semacam ini sudah lumrah terjadi, aku tidak lantas menyerah dan memeriksa rekaman pada hari ritual tersebut, tetapi upaya itu pun sia-sia.

Setelah memeriksa rekaman sehari sebelum dan sesudahnya, aku akhirnya menemukan sosok Han Sujin pada rekaman tiga hari kemudian. Mengingat itu adalah ingatan dari tiga bulan yang lalu, selisih tiga hari bukanlah rentang kesalahan yang besar.

Kesaksian pemilik toko itu ternyata akurat. Wanita itu menunjukkan sesuatu di ponselnya kepada pemilik toko, dan saat pemilik toko memilihkan sebilah pisau serta membawakannya, dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.

"Itu sudah pasti Han Sujin."

"Haruskah aku mengajukan surat perintah penangkapan dan memanggilnya, atau memintanya hadir sebagai saksi besok?"

"Untuk saat ini, mari kita geledah TKP lagi besok. Wajahnya sudah tertangkap di rekaman video dan kita sudah mengantongi kesaksian pemilik toko perkakas, jadi mendapatkan surat perintah penangkapan tidak akan menjadi masalah. Kita harus menemukan senjata pembunuhannya, yakni pisau itu, agar bisa memenangkan persidangan."

Aku baru saja hendak bertanya mengapa dia tiba-tiba berbicara dengan bahasa formal, tetapi aku lekas menyadari bahwa Kepala Song masih berada di sana dan aku pun mengatupkan bibirku.

Yah, kurasa aku patut bersyukur dia tidak mengabaikanku di depan orang lain.

Tepat ketika aku sedang memeriksa ulang rekaman tersebut, Jaksa Joo menarik kursinya mendekat dan menekan tombol jeda.

"Petugas Lee Chaeha, lihat orang yang sedang melintas di luar pintu itu sekarang."

Mataku, yang sedari tadi hanya terpaku pada Han Sujin dan sang pemilik toko, kini beralih ke orang di luar yang ditunjuk oleh Jaksa Joo. Rahangku, yang tadinya terkatup rapat, seketika menganga.

Terkejut oleh pengamatannya yang tajam, aku menatapnya. Jaksa Joo membelalakkan mata dan menatap lekat-lekat seolah-olah dia akan tersedot ke dalam monitor, lalu menggertakkan giginya.

"Bukankah itu Koryo-in Pak Kim?"

Memang benar. Itu adalah Koryo-in Pak Kim, yang keberadaannya selama ini belum berhasil kami lacak sepenuhnya.

Jaksa Joo perlahan menegakkan tubuh bagian atasnya, yang tadinya mencondong ke depan seolah akan tersedot ke dalam monitor, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Petugas Lee, sita semua rekaman CCTV di sekitar sana dan selidiki apakah ada saksi mata. Kejadiannya sudah tiga bulan yang lalu, jadi kemungkinan besar tidak ada lagi rekaman CCTV yang tersisa selain ini, oleh karena itu penggalian informasi dari warga sekitar sangatlah penting."

"Baik, Jaksa. Apakah aku harus melanjutkannya setelah menutup kasus pembunuhan anak ini?"

"Begitulah seharusnya. Sedang apa dia sebenarnya di daerah yang berlawanan arah dari kasino itu?"

Aku pun penasaran akan hal itu. Kami menatap lekat-lekat pria yang melintas dengan pakaian serupa milik Koryo-in Pak Kim tersebut untuk waktu yang cukup lama. Mungkin saja masih ada bukti yang bisa mengaitkan Oh Jahyeon dengan Koryo-in Pak Kim di sana. Di dekat toko perkakas itu.

Jaksa Joo perlahan mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menjadikan telapak tangannya sebagai penghalang. Kemudian, dia mengembuskan napas pelan ke lubang telingaku dan berbisik.

"Petugas Lee, mulai sekarang, jangan percayai siapa pun."

Bulu-bulu halus di sekitar telingaku seketika meremang.

"...Baik."

"Mulai sekarang, keadaannya mungkin akan berbahaya."

Jika dipikir-pikir lagi... semua orang di sekitar Oh Jahyeon yang merintangi jalannya, berakhir tewas.

Jaksa Joo sengaja meredam kasus Koryo-in tersebut. Begitu lama, hingga pihak lawan tak sanggup lagi menahan diri dan terpancing untuk bereaksi. Jika penyelidikannya dilanjutkan sekarang, bahkan setelah kakek penambang itu maju untuk memberikan pengakuan palsu, reaksi macam apa yang akan mereka tunjukkan?

Khawatir saksi yang aneh itu mungkin mencuri dengar percakapan kami, aku pun akhirnya membuka program Notepad dan mulai mengetik.

Apakah menurutmu akan terjadi sesuatu yang menempatkan kita berdua dalam bahaya?

Tidak, Petugas Lee-lah yang berada dalam bahaya.

Setelah menimbangnya dengan saksama, aku kembali mengetik.

Karena aku bukan seorang jaksa?

Ya.

Jaksa Joo mengambil bolpoinnya dan menggigit pelan ujungnya. Sambil menatap layar monitor, raut wajahnya tampak jauh lebih risau dari yang pernah kulihat sebelumnya.

Bukan sekadar khawatir, melainkan cemas, seakan tengah mengantisipasi suatu pertanda buruk.

Bagaikan seseorang yang baru saja menemukan satu roda gigi kecil yang letaknya melenceng.

Seperti itulah tatapan matanya saat ini.

Penggeledahan kediaman Han Sujin dilakukan bersama Kepala Song. Biasanya, penggeledahan dilakukan oleh tim penyidik, dan saat melakukan penyitaan berskala besar atau hendak menangkap tersangka, kami akan mendapat bantuan dari kantor kejaksaan lain. Jaksa Joo memiliki tugas-tugas lain di kantor kejaksaan yang harus diurus di luar jadwal penyelidikan, dan kebetulan hari itu kepala jaksa mengadakan rapat, jadi sayangnya, dia tidak bisa menemaniku ke lokasi.

Aku baru saja menyelesaikan persiapan untuk berangkat dan sedang menunggu Kepala Song, ketika Jaksa Joo terus-menerus menatapku tanpa alasan yang jelas sembari membolak-balik dokumennya. Tatapan matanya sama sekali tidak lembut, sampai-sampai aku bertanya-tanya apakah dia berubah pikiran setelah sebelumnya mengatakan bahwa dia ingin aku datang ke rumahnya malam ini. Padahal, tepat sebelum pulang kemarin, dia telah mendesakku ke dinding kantor bagian dalam dan menciumku, tetapi sikapnya sangat dingin pada siang hari.

Banyak pegawai Cabang Danhyeon yang tinggal di sekitar kantor kejaksaan dan perumahan dinas. Oleh karena itu, kami tidak berani sembarangan berpegangan tangan atau saling bersentuhan, bahkan di dalam mobil sekalipun. Kami harus berhati-hati karena bisa saja ada yang memergoki kami dari balik kaca jendela.

Bahkan di dalam kantor kejaksaan, kecuali kami mengunci pintu ruang kerja tambahan pada larut malam dan masuk ke dalamnya, kami sama sekali tidak saling bersentuhan, sekalipun Kepala Song dan Petugas No sudah pulang. Itu adalah sebuah aturan yang disepakati secara diam-diam selama beberapa hari terakhir ini.

1.586 kata

The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 81

My Donation

Dukung translator

lovesis227 • The Prosecutor’s Office Proposal

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.