"Jika mustahil bagi seseorang untuk mengasahnya sendiri di rumah, maka Lee Hyunsu pastilah pelakunya."
"Tidakkah kau berpikir bahwa ayah anak-anak itu pelakunya?"
"Semakin jauh aku menyelidikinya, semakin aku merasa demikian. Sepertinya aku sudah berpikir terlalu jauh gara-gara Oh Jahyeon."
Itu adalah penilaian yang objektif. Jaksa Joo adalah orang yang terbiasa menaruh curiga, dan terkadang dia terlalu terpaku pada bukti tak langsung.
"Seperti yang Petugas Lee katakan, bukti fisiknya sudah terlalu meyakinkan. Memang ada hal-hal yang membuat Ahn Dongjin patut dicurigai, namun untuk saat ini, kita harus berasumsi bahwa bukan dia pelakunya. Jika kita pulang dengan tangan hampa hari ini, mari kita periksa mutasi kartu kreditnya sekali lagi, dan jika masih tidak ada apa-apa, mari kita hentikan saja. Rasanya ini seperti deduksi yang konyol. Bagaimana hasilnya saat Petugas Lee memeriksa mutasi tersebut?"
"Berdasarkan pemeriksaanku pagi ini, tidak ada rekam jejak bahwa dia membeli barang apa pun yang bisa memotong pisau. Tidak ada tempat-tempat yang tampak mencurigakan juga."
"Mari kita kunjungi satu tempat lagi, untuk yang terakhir kalinya."
"Baik, Jaksa."
Kami tiba di sebuah toko perkakas kecil setelah menyusuri deretan lampu jalan yang berjajar bak taburan bintang. Semua tempat yang kami kunjungi hari ini terbilang cukup besar, tetapi yang satu ini adalah toko berskala kecil, dan letaknya paling jauh dari kediaman Han Sujin dan Ahn Dongjin. Aku melilitkan syal pemberian Jaksa Joo di leherku dengan rapat lalu melangkah masuk.
Pertama-tama, aku menunjukkan pisau dengan ujung yang telah dipotong itu kepada pria pemilik toko tersebut. Pria paruh baya dengan perawakan kecil yang rasanya kurang cocok untuk ukuran seorang penjual perkakas itu membelalakkan matanya dan menatap kami.
"Ada orang lain yang juga mencari pisau ini."
Seketika itu juga, kulit kepalaku meremang. Aku dan Jaksa Joo saling bertatapan sejenak. Terdengar nada antusias yang samar dari suara Jaksa Joo saat dia menatap sang pemilik toko.
"Apakah ada seseorang yang ingin membeli pisau yang serupa?"
"Ya, dia menunjukkan foto pisau dengan ujung terpotong seperti ini kepada saya. Dia bertanya apakah saya menjual pisau yang persis sama. Tetapi model pisau ini sudah tidak diproduksi lagi. Jadi, saya merekomendasikan pisau lain yang mirip dan dia membelinya."
Aku menyodorkan foto Ahn Dongjin mewakili Jaksa Joo. Pemilik toko itu menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan tegas.
"Pelanggan itu adalah seorang wanita."
Tidak mungkin....
Setelah ragu sejenak, aku mengeluarkan foto Han Sujin dan menunjukkannya kepadanya, dan sang pemilik toko mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Teringat kembali bagaimana wanita itu bersandar pada suaminya dan menangis di kantor kejaksaan tempo hari, tengkukku seketika merinding.
"Apakah Anda ingat kapan itu terjadi?"
"Coba kuingat-ingat... Sepertinya pada bulan November."
Pemilik toko itu menjawab dengan santai tanpa perlu berpikir panjang. Karena terkejut, aku menoleh menatap Jaksa Joo lagi, dan dia dengan cepat menangkap isyarat yang tersirat dari pandanganku.
Dia pun bertanya kepada pemilik toko itu.
"Bulan November itu hampir tiga bulan yang lalu. Bagaimana Anda bisa mengingat kejadian yang sudah berlalu selama itu?"
Mempertanyakan alasan seseorang bisa mengingat sesuatu adalah faktor krusial untuk membuktikan kredibilitas sebuah pernyataan saksi. Menanggapi pertanyaan Jaksa Joo, kali ini pun pemilik toko itu langsung memberikan jawaban tanpa ragu.
"Sehari sebelumnya, saya pergi menonton sebuah ritual perdukunan, dan saya melihat sang dukun berjalan di atas mata pisau. Itu pertama kalinya saya melihat hal semacam itu, dan wow, sungguh luar biasa. Bilah-bilah pisau itu diasah setajam silet, tetapi dia menari di atasnya dengan sangat luwes. Namun, sejak hari berikutnya, pisau-pisau di toko saya tiba-tiba laris manis. Mungkin sekitar seminggu lamanya? Saya sempat bertanya-tanya apakah itu karena orang-orang juga habis menonton dukun yang berjalan di atas pisau, tetapi kemudian ada seseorang yang datang mencari pisau dengan membawa selembar foto, jadi saya benar-benar mengira semua ini pasti berkat ritual tersebut."
Mata pemilik toko itu berbinar-binar, layaknya seseorang yang tengah membagikan kisah ajaib secara diam-diam saat dia membeberkan cerita tersebut.
Dia menonton ritual dukun berjalan di atas pisau untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Hal itu jelas merupakan sebuah kejadian yang tak terlupakan.
Hal tersebut tidak hanya menjelaskan mengapa jawaban 'November' bisa langsung terlontar seketika, tetapi juga meningkatkan keandalan pernyataan saksi dalam kasus semacam ini. Semakin jelas alasan mengapa suatu kejadian membekas di benak seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat keakuratan dari pernyataan tersebut.
Kali ini, giliranku yang mengajukan pertanyaan.
"Apakah wanita ini juga meminta agar ujung pisaunya dikikis?"
"Ya. Dia bilang dia pernah ditikam pisau sebelumnya? Dia mengaku takut pada benda runcing, jadi dia meminta saya untuk mengikisnya persis seperti di foto itu. Saya juga merasa hal itu aneh."
"Lalu, apakah Anda kebetulan mengingat tanggalnya?"
"Saya tidak begitu ingat tanggal pastinya.... Tetapi, orang yang memimpin ritual itu adalah teman saya, jadi jika saya bertanya kepadanya, kita bisa tahu tanggalnya. Tunggu sebentar."
Pemilik toko itu segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon temannya. Mereka pasti sangat akrab, sebab suaranya mendadak berubah menjadi sangat lantang.
"Hei! Ini aku. Tanggal berapa di bulan November kau melakukan ritual itu? Cepat jawab. Ada seorang jaksa bersamaku di sini sekarang. Ya, benar, jaksa sungguhan yang lulus ujian hukum. Oke, mengerti. Nanti kuceritakan alasannya mereka datang. Ayo kita minum-minum."
Pemilik toko itu menyudahi panggilan teleponnya yang berisik dan langsung memberitahu kami tanggalnya. Sementara aku mengeluarkan buku catatan biruku untuk mencatatnya, Jaksa Joo mendongak dan menyapu pandangannya ke sekeliling bagian dalam toko perkakas tersebut. Dia menunjuk ke arah kamera CCTV yang terpasang di sudut ruangan.
"Apakah kamera itu berfungsi?"
"Ya."
"Apakah momen saat dia membeli pisau yang baru saja Anda sebutkan itu terekam?"
"Mengingat rekamannya tersimpan selama tiga bulan... ya, sepertinya rekamannya masih ada."
"Bisakah kami melihatnya sekarang?"
"Aduh, bagaimana ya. Saya harus pergi minum-minum dengan teman saya.... Bisakah Anda membawa rekaman CCTV-nya saja?"
"Apakah Anda yakin tidak keberatan? Tentu akan jauh lebih memudahkan kami jika Anda bersedia menyerahkannya."
"Ya, tentu saja. Kapan Anda bisa mengembalikannya? Tolong segera dikembalikan ya."
"Kami akan mencadangkan rekamannya dan mengembalikannya melalui staf dari Kantor Cabang Danhyeon besok."
Kami melepaskan kartu memori internal yang berisi rekaman CCTV tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong barang bukti.
"Dengan bukti ini, apakah kita bisa mendapatkan surat perintah?"
"Jika wajahnya tertangkap dengan jelas di dalam rekaman itu, kita akan mendapatkannya."
Begitu kami melangkah keluar dari toko perkakas, aku melangkah menuju mobil dengan kaki yang mengetuk-ngetuk tanah penuh antisipasi, tetapi Jaksa Joo menarik bagian belakang mantelku. Aku terseret mundur tanpa daya, layaknya orang yang sedang mabuk. Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dari saku bagian dalam mantelnya lalu menyodorkannya.
"Sudah lumayan lama."
Aku menatap batang rokok putih yang panjang itu.
"Mari kita bagi sebatang berdua."
"Baik."
Kami berdiri di sebuah sudut sepi yang tak terjangkau oleh cahaya lampu jalan. Jaksa Joo mengeluarkan pemantik Zippo miliknya, menjadikan telapak tangannya sebagai penghalang angin, lalu menyalakan rokok tersebut. Seperti biasa, aku memperhatikan pendar jingga yang berkedip di telapak tangannya. Namun, karena merasa bahwa sekarang aku sudah bisa menanyakan hal semacam ini kepadanya, aku pun bertanya.
"Pemantik Zippo itu tampak usang; apakah kau mendapatkannya sebagai hadiah?"
"Ini peninggalan dari mendiang ayahku."
Kukira tidak masalah untuk bertanya, namun ternyata tebakanku keliru sepenuhnya. Merasa canggung, aku mengisap rokok itu lalu mengembuskan asapnya. Jaksa Joo mengambil rokok tersebut dari sela-sela jariku, sedikit menggigit bagian yang baru saja kuisap dengan giginya, lalu berkata.
"Tidak apa-apa. Kau boleh menanyakan hal-hal seperti itu."
"Ya."
"Seharusnya aku sudah tahu sejak awal kalau Han Sujin-lah pelakunya. Jika itu Ahn Dongjin atau Lee Hyunsu, mereka tidak perlu repot-repot melakukan hal itu. Maksudku, cara pembunuhan tersebut."
"Cara pembunuhannya?"
"Anak pertama adalah anak laki-laki, bukan? Pasti akan sangat merepotkan jika harus menundukkan bocah dua belas tahun hanya untuk membekapnya dengan bantal. Perawakan Han Sujin juga tidak bisa dibilang besar. Kebanyakan orang tua lebih memilih membunuh anak mereka dengan mencekokkan obat atau membekapnya, terutama para ibu. Dengan begitu, tidak ada bekas luka yang tertinggal pada tubuh sang anak. Karena anak pertama adalah laki-laki, mungkin ada selisih tenaga di antara mereka, dan karena sedari awal mereka memang berencana menjebak temannya, mereka pun menikamnya dengan pisau. Namun, wanita itu pasti tidak ingin melakukan hal serupa pada anak kedua."
"Masuk akal. Kalau begitu, hal ini menjelaskan alasan dia menggunakan dua cara pembunuhan yang berbeda. Masuk akal pula mengapa dia mendatangi kediaman Lee Hyunsu bersama sang suami padahal hubungan mereka sedang renggang."
Jaksa Joo kembali mengisap rokoknya dalam-dalam, menjauhkannya dari bibir, lalu mengembuskan asapnya ke udara. Memandangi filter rokok yang basah oleh air liurnya dan menampakkan bekas gigitan giginya, anehnya, tiba-tiba saja aku merasa ingin merokok. Bukan karena aku ingin berusaha membaur dengan para atasan atau rekan kerja, bukan pula demi mengorek informasi dari tersangka, melainkan semata-mata karena aku ingin mengulum rokok itu di mulutku.
Aku mengulurkan jemariku yang dingin dan mengambil kembali rokok itu dari tangannya. Dengan hati-hati, kutaruh rokok itu di bibirku dan mulai mengisapnya. Filternya yang basah oleh air liur Jaksa Joo menyentuh ujung lidahku. Mungkin karena tanpa sadar aku menghirupnya terlalu dalam, asap pekat itu menyengat tenggorokanku untuk pertama kalinya. Saat aku terbatuk pelan, Jaksa Joo tersenyum tipis dan menyapukan tangannya di rambutku, seolah mengacak-acaknya dengan lembut.
"Jangan diisap terlalu dalam."
Nada bicaranya sama sekali tidak terdengar seperti seorang atasan, melainkan lebih seperti seseorang yang sedang membujuk kekasih mudanya.
"Kau bahkan tidak tahu cara merokok dengan benar."
Tanpa kusadari, dia tengah tersenyum dengan begitu hangat.
Jika kau tersenyum seperti itu, aku bisa salah sangka.
Kata-kata itu tertahan di tenggorokanku bersama asap yang menyengat, lalu lenyap begitu saja bersamaan dengan sisa batuk yang meluncur keluar.
Guna menepis gejolak perasaan ini, kusodorkan kembali rokok itu kepadanya. Dia mengambil rokok tersebut—rokok yang baru saja menyentuh bibirku—dengan santai, persis seperti yang dilakukannya pertama kali.
Kendati aku telah melangkah masuk ke dalam ranah pribadi Jaksa Joo, momen di mana kami berbagi sebatang rokok ini membuatku begitu gemetar hingga rasanya aku ingin segera melarikan diri kembali ke ranah publik untuk menjaga jarak. Tepat pada saat itu, sebuah topik pembicaraan yang pas melintas di benakku.
"Jaksa Joo, dulu aku pernah mendapat pelajaran ini dari seorang detektif senior. Dalam kasus-kasus di mana orang tua membunuh anak mereka sendiri..."
"Ya?"
"Hampir tidak ada kasus di mana mereka menemukan jasad anak mereka seorang diri."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.