Jaksa Joo memutar kemudi dengan luwes dan berkata,
"Kemarin, saat berbaring di tempat tidur, aku memikirkan hal ini. Fakta bahwa pelaku menikam anak pertama hingga tewas dengan pisau, namun membekap anak kedua, sungguh mengusik pikiranku. Aku merasa pasti ada alasan mengapa dia repot-repot menggunakan cara pembunuhan yang berbeda."
"Kau benar. Jangan-jangan... mungkinkah Ahn Dongjin dan Lee Hyunsu melakukannya bersama-sama? Itu bisa menjelaskan semuanya—baik alasan di balik perbedaan cara membunuh anak-anak tersebut, serta mengapa pisau itu ditemukan kembali di rumah Lee Hyunsu. Masing-masing dari mereka berbagi tugas membunuh satu anak, dan Lee Hyunsu mengambil pisaunya kembali."
Seakan sedang menimbang-nimbang hipotesisku, Jaksa Joo mengetuk-ngetuk kemudi pelan dengan ujung jarinya. Dia tidak menjawab selama beberapa saat, tetapi tampaknya dia menganggap hal itu sebagai suatu kemungkinan.
"Kemungkinan itu memang patut dipertimbangkan juga. Namun, jika memang begitu kejadiannya, kurasa Ahn Dongjin tidak perlu repot-repot membeli semangka dan pergi ke rumah temannya bersama sang istri. Rasanya dia sengaja mencari-cari alasan agar bisa mengambil pisau itu, dan hal itulah yang mengganjal di pikiranku."
Pisau itu. Memang itulah kuncinya. Seluruh kasus ini bergantung pada pisau tersebut.
Sudah bisa dipastikan bahwa ada yang membunuh anak pertama menggunakan pisau yang ujungnya patah. Di sisi lain, Lee Hyunsu mengidap fobia terhadap benda berujung runcing semenjak dirinya pernah ditikam, yang membuat pria itu menumpulkan seluruh ujung pisau di rumahnya. Berdasarkan informasi yang kudapatkan dari detektif yang bertugas pagi ini, fobia Lee Hyunsu begitu parah sampai-sampai dia bahkan tidak menyimpan gunting di rumahnya.
Jaksa Joo akhirnya mengungkapkan apa yang sedari tadi ada di pikirannya kepadaku, tepat ketika kami hendak turun melakukan penyelidikan.
"Pada hari mereka membeli semangka itu, mungkinkah salah satu dari pasangan suami-istri tersebut mampir hanya untuk menodai pisau itu dengan darah? Sementara mereka menggunakan pisau yang berbeda untuk aksi pembunuhannya yang sesungguhnya?"
"Pisau yang berbeda?"
"Mereka hanya perlu mengikis ujung pisau yang lain agar terlihat serupa, bukan?"
Itu adalah taktik yang sulit untuk dilacak, tetapi kemungkinannya tidaklah nol. Sebuah siasat untuk menjebak Lee Hyunsu, sang mantan narapidana, dengan cara membalurkan darah pada pisaunya, lalu menyiapkan pisau lain yang serupa untuk melakukan penikaman. Padahal saat ini aku sedang menyelidiki kasus pembunuhan di mana Jaksa Joo dan seorang tersangka menukar alat penusuk—mengapa hal seperti itu tidak terpikirkan olehku?
Itu adalah kasus seorang pensiunan dokter kandungan, yakni seorang nenek yang dibunuh menggunakan alat penusuk. Dalam kasus tersebut juga, alat penusuk yang menancap di tubuh Nenek Park bukanlah senjata pembunuhan yang sebenarnya. Meskipun pihak kepolisian dan kejaksaan tidak menyadarinya pada saat itu.
Entah hipotesis ini keliru atau tidak, rasa hormat yang tulus seketika muncul dalam diriku atas ketajaman intuisi Jaksa Joo.
"Itu terdengar lebih masuk akal dibandingkan hipotesis bahwa Ahn Dongjin dan Lee Hyunsu bersekongkol bersama. Mereka mungkin mencari celah kesempatan untuk menodai pisaunya dengan darah berdalih membawakan semangka."
"Benar sekali."
"Namun jika memang demikian, mengapa dia harus repot-repot pergi bersama istrinya?"
Menanggapi penuturanku, dia mengangguk pelan dan membenarkan. Setiap kali hal itu terjadi, aku merasa dihargai sebagai seorang penyelidik, dan hal tersebut memberiku keberanian untuk terus mengutarakan pertanyaan atau hipotesisku.
Dulu, saat masih bertugas di divisi kejahatan kekerasan semasa menjadi polisi, aku tidak bisa menyampaikan pendapatku dengan leluasa, sehingga aku sama sekali tidak bisa memengaruhi jalannya penyelidikan. Lagipula, tidak ada seorang pun yang sudi mendengarkan.
"Petugas Lee mengamatinya dengan tajam. Benar juga. Untuk apa dia pergi bersama istrinya? Aku harus memanggil pasangan itu secara terpisah dan meminta keterangan mereka lagi. Dan jika kita tidak bisa menemukan bukti dalam beberapa hari ini bahwa Ahn Dongjin membuat pisau yang identik dengan milik Lee Hyunsu, pada akhirnya kita harus mendakwa Lee Hyunsu. Jika kita tidak bisa menemukan buktinya, kita harus berhenti berandai-andai."
"Mau tidak mau. Bagaimanapun, bukti fisik tidak pernah bohong."
Aku ragu sejenak sebelum menambahkan.
"Rasanya tidak pantas mencurigai orang tua korban. Aku akan merasa bersalah jika ternyata dugaanku keliru."
"Begitulah nasib yang harus ditanggung oleh keluarga korban."
"Kurasa itu benar."
Mobil kami berhenti di sebuah permukiman kecil. Itu adalah sebuah desa yang sangat terpencil, terletak di arah yang berlawanan dari kasino. Selain sebuah toserba kecil di permukiman tersebut, tidak ada tempat lain untuk berbelanja, swalayan besar berada sangat jauh, dan tidak ada kompleks apartemen di sekitarnya.
Aku membuka pintu mobil, keluar, dan bergegas mengenakan mantelku. Aku merasa iri pada Jaksa Joo yang sama sekali tidak menggigil kedinginan meski hanya mengenakan mantel tipis; angin saat itu benar-benar menusuk tulang.
Baru saja aku hendak melangkah ke pintu masuk toko perkakas, Jaksa Joo menahan lenganku dan menghentikanku. Dia melilitkan syalnya sendiri ke leherku.
"Kenapa kau melakukan ini?"
Tertegun oleh perilakunya yang tiba-tiba tidak biasa itu, aku mendongak menatapnya dan balik bertanya.
"Apa kau melakukan ini karena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada hari Sabtu lalu?"
"Kenapa aku harus merasa bersalah atas kejadian di hari Sabtu itu?"
"Itu karena...."
Aku tidak sanggup mengutarakan apa yang telah terjadi di rumah Jaksa Joo hari itu, jadi aku hanya mengatupkan bibirku rapat-rapat.
Dia terus memaksa meskipun aku sudah menyuruhnya berhenti dan mengatakan bahwa itu menyakitkan, jadi bukankah wajar jika dia punya alasan untuk merasa bersalah? Sekalipun hal itu dilakukan atas dasar suka sama suka.
Menatapku yang tertunduk tak mampu menjawab, Jaksa Joo berdecak pelan.
"Kau ini benar-benar merepotkan bahkan saat aku sedang bersikap baik padamu. Ayo masuk."
Syal hangatnya, yang masih menyimpan suhu tubuh Jaksa Joo, menyentuh leherku. Aku sengaja melilitkan syal itu erat-erat, seolah ingin memerangkap kehangatannya, lalu melangkah masuk ke dalam toko perkakas.
Toko perkakas itu sangat besar, dan seorang wanita paruh baya yang tampak kelelahan sedang menjaga konter. Kami berdua berjalan menuju konter belakang, menerobos aroma besi yang menumpuk di setiap sudut toko serta debu tebal dan pucat yang mengapung di udara. Pada awalnya, dia mencurigai kami sebagai penipu, tetapi sikapnya berubah kooperatif begitu kami menunjukkan tanda pengenal.
Pemilik toko itu membuka laci meja besi tua yang sudah penyok dan mengeluarkan sebuah buku catatan tebal. Tempat ini benar-benar toko perkakas kuno yang bahkan tidak memiliki mesin kasir. Dia berkata dengan wajah tak acuh.
"Tanyakan saja apa yang ingin kalian ketahui."
Aku mengeluarkan selembar foto Lee Hyunsu, menyodorkannya, lalu bertanya.
"Apakah Anda mengenali orang ini?"
"Ya, pria ini. Saya kenal. Pria yang membawa pisau dan meminta saya untuk mengikis ujungnya."
"Sejak kapan dia mulai datang untuk meminta Anda mengikis pisau itu?"
"Sejak dia keluar dari penjara."
Aku sedikit terkejut mendapati pemilik toko itu tahu bahwa Lee Hyunsu adalah seorang mantan narapidana. Aku saling bertatapan sejenak dengan Jaksa Joo, lalu mengalihkan pandangan dan kembali bertanya.
"Bagaimana Anda tahu dia pernah dipenjara?"
"Semua orang di lingkungan ini tahu urusan satu sama lain. Anda bisa lihat sendiri, tidak banyak orang yang tinggal di sini. Kata orang-orang, pria ini membunuh anak-anak itu beberapa minggu lalu dan masuk penjara. Pria keparat, dia seharusnya dihukum mati saja."
Pemilik toko itu berdecak dan mengumpat. Jaksa Joo menyodorkan foto Ahn Dongjin kepadanya.
"Kalau begitu, apakah kebetulan Anda juga mengenali orang ini?"
"Tidak, saya tidak mengenalnya."
"Lalu, bagaimana dengan yang ini?"
Foto kedua adalah Han Sujin. Sesuai dugaan, pemilik toko itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, rasanya saya tidak pernah melihat mereka berdua. Apakah mereka tinggal di daerah sini?"
"Sulit bagi kami untuk membeberkan informasi pribadi. Kalau begitu, dari sudut pandang Anda sebagai seorang ahli, mungkinkah seseorang mengikis ujung pisau sendiri di rumah hingga mencapai bentuk seperti yang diminta oleh Pak Lee Hyunsu? Misalnya dengan membeli peralatannya sendiri?"
"Astaga, tingkat kesulitan seperti itu sangatlah tinggi. Ini bukan sekadar diasah biasa. Dia begitu ketakutan pada benda berujung runcing sampai-sampai ujung pisaunya harus dipotong terlebih dahulu sebelum bisa dikikis halus. Bagaimana mungkin orang awam bisa memotong ujung pisau sendiri di rumah? Mereka pasti harus melakukannya di tempat seperti ini, atau pergi ke jasa tukang asah pisau profesional."
Aku mendapatkan informasi penting dari sang pemilik toko. Bahwa jika Ahn Dongjin adalah pelakunya, pasti ada tempat di mana dia mengasah pisaunya. Hanya dengan begitu, dia bisa meninggalkan bekas yang serupa pada tulang anak pertama tanpa harus mencuri pisau dari rumah Lee Hyunsu.
Aku hanya perlu berkeliling ke semua toko di Kota Danhyeon yang melayani jasa asah pisau, dan menyisir truk-truk pengasah pisau keliling bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Jumlahnya tidak banyak, jadi itu bukanlah tugas yang sulit. Jika tidak ada petunjuk apa pun yang muncul setelah itu, berarti Lee Hyunsu-lah pelakunya.
Aku pun memulai percakapan dengan hati-hati.
"Kalau begitu, pertama-tama, apakah ada rekam jejak Pak Lee Hyunsu menggunakan jasa toko Anda di dalam buku catatan itu?"
"Ada, tunggu sebentar."
Pemilik toko yang sedari tadi tampak lesu itu ternyata memiliki ingatan yang luar biasa tajam. Dia mengingat dengan jelas pada bulan apa Lee Hyunsu berkunjung, lalu membeberkan buku catatannya untuk menunjukkannya kepada kami. Sembari memotret buku catatan itu dan beranjak meninggalkan toko perkakas, aku berkata kepada Jaksa Joo.
"Mengingat ingatan pemilik toko itu sangat tajam, ucapannya pasti benar bahwa dia tidak pernah melihat orang tua korban."
"Kurasa begitu. Apakah kita terlalu berlebihan dalam berpikir? Memang ada hal-hal janggal dalam pernyataan Ahn Dongjin dan Han Sujin, tapi... bukti fisiknya sudah sangat meyakinkan."
Jaksa Joo mengulangi persis kalimat yang pernah kuucapkan kepadanya beberapa kali.
Terkadang memang ada kasus-kasus semacam itu. Kasus di mana bukti tak langsung sudah sangat jelas namun tidak ada bukti fisik sama sekali, atau kasus di mana bukti tak langsung mengarah ke satu titik sementara bukti fisik justru mengarah ke titik lain. Entah itu kasus yang pertama ataupun yang kedua, fakta bahwa seorang penyelidik harus menemukan dan berpatokan pada bukti fisik tidaklah berubah. Sebab, bukti selalu lebih akurat daripada sekadar dugaan dan bias manusia.
Kunjungan ke toko perkakas kedua, ketiga, dan keempat juga tidak membuahkan hasil. Matahari terbenam dengan cepat, dan embun putih yang mengepul dari sela-sela bibir kami semakin tebal.
Meskipun kami pulang dengan tangan hampa, di setiap toko perkakas lainnya, kami mendengar pendapat yang sama—bahwa akan sangat sulit bagi seseorang untuk mengikis ujung pisau sendiri di rumah hingga menjadi serata itu. Mereka bilang bagian ujungnya harus dipotong terlebih dahulu menggunakan peralatan khusus.
Kami menemukan dan mendatangi beberapa tempat lain yang khusus melayani jasa asah pisau, tetapi tidak ada satu pun yang mengenali Han Sujin maupun Ahn Dongjin. Matahari bulan Februari telah sepenuhnya tenggelam di balik pegunungan.
Jaksa Joo dan aku duduk di dalam mobil yang remang-remang, menyesap kopi hangat sejenak untuk mengusir hawa dingin. Dia menatap lekat-lekat ke luar melalui kaca depan yang gelap.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.