The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 90

Meskipun di dalam sini jauh lebih baik daripada di luar, aku tetap gemetar dan tidak tahu harus berbuat apa, jadi Jaksa Joo melangkah mendekatiku dan membuka kancing mantelnya. Dia melebarkan mantelnya lalu menarikku ke dalam pelukannya, seolah-olah sedang membungkusku dengan selimut. Bagian dalam mantelnya, yang tampak tipis, ternyata sangat hangat berkat suhu tubuhnya. Secara alami, aku membenamkan wajah di dadanya dan melingkarkan lenganku di balik pinggangnya. Dia mendekapku erat saat aku menyandarkan diri padanya, menghalangiku dari embusan angin.

Sembari menikmati kehangatan yang menyelimuti tubuh, aku merasakan desiran hangat lain perlahan mekar di dalam dadaku. Itu karena aku benar-benar bisa merasakan bahwa hubungan antara diriku dan Jaksa Joo telah berubah sepenuhnya semenjak hari Sabtu lalu.

Saling berpelukan di tengah-tengah pengintaian. Jantungku berdebar tak karuan—bukan karena hawa dingin, melainkan karena perasaanku rasanya hampir meledak.

Tiba-tiba, aku ingin menatap manik matanya yang gelap, yang sudah sering kali kuhadapi itu. Aku mengistirahatkan dagu di dadanya yang bidang dan mendongak, tetapi ternyata Jaksa Joo sudah lebih dulu menunduk menatapku. Cahaya temaram lampu jalan yang menyusup melalui jendela kecil menerangi pangkal hidungnya yang lurus dan matanya yang tajam. Dia menundukkan kepala, menempelkan bibir lembutnya ke bibirku dalam sebuah kecupan ringan, menarik diri, dan setelah meninggalkan kecupan singkat di dahiku, dia mendekapku semakin erat.

Aku ingin melepaskan diri layaknya seorang pembangkang, murni karena kecupan penuh kasih sayang yang baru saja dia tinggalkan. Jantungku berdegup sangat kencang sampai-sampai aku khawatir detaknya bisa tersalurkan menembus jaket tebalku, jadi aku mencoba menarik lenganku, tetapi Jaksa Joo tidak membiarkanku kabur.

Kepulan uap napas putih berembus dari celah bibirnya yang terbentuk rapi.

"Aku ingin melakukannya lagi, sekarang karena kita sedang seperti ini."

"...Melakukan apa?"

"Kau tahu maksudku, lalu kenapa masih bertanya?"

Aku tidak menduga hal itu. Karena terkejut, tanpa sadar aku mengeratkan jemari yang melingkar di pinggang Jaksa Joo. Dia sedikit mengernyitkan dahi, seolah itu terasa sakit.

"Kenapa kau mencubitku?"

"Aku tidak mencubit Anda, aku hanya... terkejut.... Bagaimana bisa Anda ingin melakukannya lagi setelah tadi kita melakukannya sebanyak itu?"

"Karena tidak seperti dirimu, Petugas Lee, aku memiliki stamina yang bagus."

"Staminaku juga bagus. Jika Anda bersikap sedikit lebih lembut, Jaksa, aku tidak akan kehilangan begitu banyak tenaga."

"Apakah aku kurang bersikap lembut hari ini? Dibandingkan dengan hari Sabtu lalu, menurutku itu adalah peningkatan yang luar biasa. Mendapatkan perlakuan setingkat itu dariku adalah sesuatu yang kusebut sebagai bentuk kasih sayang."

Itu adalah jawaban yang dengan terang-terangan membeberkan apa yang sebenarnya dia pikirkan tentang diriku. Ujung-ujung jariku sedikit gemetar, tetapi aku sengaja membalas ucapannya dengan lebih tegas untuk menyembunyikannya.

"...Entahlah. Kurasa Anda tidak akan bersikap seperti ini kepada seorang kekasih."

Aku baru saja mengutarakan rasa tidak puasku, tetapi Jaksa Joo malah tersenyum santai dan membelai rambutku.

"Aku belum pernah memiliki kekasih, jadi aku tidak tahu."

"...Anda belum pernah memiliki kekasih?"

"Hanya cinta satu malam dan pertemuan-pertemuan singkat, beberapa kali. Apakah sekarang kita sedang menggali masa lalu satu sama lain? Sayang sekali. Aku sudah tahu bahwa aku adalah yang pertama untuk segalanya bagimu, Petugas Lee, jadi aku sama sekali tidak penasaran tentang apa pun. Menghabiskan waktu untuk hal semacam ini hanya membuatku rugi sendiri."

"Kenapa dibilang rugi? Mungkin saja ada seseorang yang menyukaiku, atau seseorang yang kusukai...."

Sebenarnya, meskipun memang ada, itu semua akan bermuara pada kesimpulan bahwa aku tidak pernah benar-benar menjalin hubungan asmara dengan siapa pun. Jadi dari sudut pandang Jaksa Joo, memang tidak ada yang perlu membuatnya penasaran.

"Kurasa aku juga adalah orang pertama yang pernah kau sukai, Petugas Lee."

"...Kenapa aku harus menyukai Anda, Jaksa?"

"Lee Chaeha."

Mendengarnya tiba-tiba memanggil namaku secara langsung tanpa embel-embel jabatan, membuat pelukannya terasa menyesakkan. Jantungku mencelos, dan peluh yang hangat merembes di dahiku. Aku mencoba menundukkan kepala, tetapi dia menahan dahiku dengan ujung hidungnya, sehingga aku tidak punya pilihan selain kembali menatap ke atas.

"Kau mungkin berpikir kau pandai menyembunyikan pikiran dan perasaanmu, Lee Chaeha, tetapi kau masih terlalu muda untuk bisa mengelabuiku."

“….”

"Sama halnya dengan usiamu yang masih muda, kau juga rapuh."

Aku bisa saja membalas bahwa dia hanya berumur enam tahun lebih tua dariku, tetapi aku tak bisa mengatakannya, karena bahkan di mataku sendiri, pria yang memelukku ini terlihat jauh lebih dewasa.

Aku sudah merasa begitu sejak awal. Sejak aku mendengar berita bahwa seorang jaksa baru berani menentang Kepala Kejaksaan. Terlebih lagi semenjak hari pertama aku duduk berhadapan dengan Jaksa Joo Taeson di ruang penyelidikan beberapa tahun kemudian.

Aku tahu bahwa orang dewasa di hadapanku ini, tidak seperti diriku, adalah seseorang yang tahu bagaimana caranya mengarungi dan bertahan dalam kerasnya kehidupan sosial dengan tangguh.

Karena itulah, meskipun Jaksa Joo sangat memahami stigma dari statusku sebagai 'putra Lee Gilyoung', dia tetap membantuku agar aku tidak kesulitan beradaptasi di kantor penyelidikan. Tidak pernah ada rumor tentang diriku atau ayahku yang dibiarkan tersebar di Kantor Cabang Danhyeon. Mungkin karena latar belakangku itu, dia terkadang memperlakukanku dengan emosional atau menorehkan luka padaku, tetapi itu semua bisa kuterima.

Tubuhku, yang tadinya gemetar akibat dinginnya udara subuh, akhirnya menjadi lebih tenang berkat suhu tubuh Jaksa Joo. Dia memastikan sekali lagi apakah aku masih menggigil, lalu membawa dua buah kursi plastik dari sudut ruangan. Setelah mengeluarkan saputangan dari saku dalam mantelnya dan menyeka debu di kursi tersebut, dia menyuruhku duduk lebih dulu, barulah dia mengambil tempat duduk di sampingku.

"Sekarang, lepaskan sepatumu."

"Kenapa aku harus melepas sepatuku?"

"Jika aku menyuruhmu melepasnya, lepaskan saja."

Saat aku melepaskan kakiku dari sepatu, dia mencondongkan tubuhnya dan menarik kedua kakiku ke arahnya. Terkejut, aku meringkuk jari-jari kakiku yang sedingin es, dan dia membalut kedua tangannya di sekitar kakiku yang membeku, menenangkanku saat aku menatapnya dengan mata terbelalak layaknya seekor kelinci.

"Kau memakai sepatu pantofel, jadi kupikir kakimu mungkin kedinginan."

"Anda tidak... perlu sampai melakukan ini untukku."

Jawabku, sembari menggoyangkan jari-jari kakiku di dalam kaus kaki hitam. Merasa malu sekaligus bersyukur, aku diam-diam mengeluarkan kantong penghangat dari sakuku dan meletakkannya di pangkuan Jaksa Joo, tetapi dia malah mengambil kantong penghangat itu dan menggunakannya untuk menghangatkan kakiku. Aku menunduk dan menatap diam-diam ke arah tangan besar yang sedang menggenggam kakiku itu.

Kami menunggu selama lebih dari tiga jam, menahan hawa dingin, sebelum akhirnya kami mendengar sebuah suara dari luar. Saat itu, aku sudah kembali bangkit dari kursi dan bersandar di dalam pelukan Jaksa Joo. Terkejut oleh suara asing itu, aku mengangkat kepalaku, tetapi tatapan mata tajam di sisi lain sudah terpaku ke arah celah pintu.

Dekapan tangan yang sedari tadi menahanku perlahan melonggar, dan kami pun berjalan dengan hati-hati menuju pintu.

Saat fajar menyingsing, di bawah langit subuh yang kebiruan, aku melihat punggung Han Sujin yang tampak muram. Sepertinya dia menghabiskan malam di suatu tempat dan datang menumpang bus pertama. Sebotol soju diletakkan di atas makam, dan setelah menunduk memberi hormat, Han Sujin memercikkan soju tersebut ke atas makam orang tuanya. Dia kemudian terisak selama beberapa saat. Ketika aku mendongak menatap Jaksa Joo, dia menahanku dengan telapak tangannya, seakan menyuruhku untuk tetap diam di tempat.

Han Sujin berdiri di depan makam orang tuanya cukup lama sebelum tiba-tiba membalikkan tubuhnya ke arah gudang tempat kami berada. Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia berhenti dan membungkukkan badannya. Tergeletak di dekat kakinya, seutas tali yang tipis namun tampak kuat.

Sudah menjadi hal yang lumrah bagi pelaku kejahatan untuk gantung diri atau meminum racun di tempat mereka bisa melihat makam orang tua mereka. Entah itu karena pada saat-saat terakhir mereka teringat pada orang tua yang telah memberi mereka kehidupan atau karena alasan lain, aku tidak tahu. Mungkin saja itu adalah dorongan psikologis untuk mengakhiri hidup di tempat kehidupan itu bermula. Saat Han Sujin meraih tali itu, Jaksa Joo menurunkan tangan yang sedari tadi menahanku dan memberikan isyarat, menunjuk ke arah pintu dengan jari telunjuknya.

Jaksa Joo mendobrak pintu itu dengan cepat, dan aku berlari keluar menuju Han Sujin bersamanya. Terkejut oleh suara yang tiba-tiba itu, Han Sujin tersentak kaget. Begitu melihat kami, dia membuang tali tersebut, melompati gundukan makam, dan mulai berlari membabi buta.

Dalam hal stamina fisik, Jaksa Joo jauh lebih unggul. Namun, wanita itu sangat mengenali medan setempat, sehingga dia berhasil menghindari kami lebih lama dari perkiraan. Dia mulai berlari secepat kilat, hanya memilih jalur-jalur pegunungan yang sempit.

"Nyonya Han Sujin!"

Jaksa Joo berteriak lantang dan berlari mendahuluiku. Lagi pula aku tidak akan bisa mengalahkannya dalam hal kecepatan, jadi tidak ada gunanya memaksakan diri. Sebaliknya, aku memastikan arah pelarian Jaksa Joo dan Han Sujin, melihat sekeliling dengan cepat, dan memilih jalur sebelah kiri untuk mulai berlari. Aku menilai tidak ada gunanya jika kami berdua mengejar ke arah yang sama.

Arah yang kumasuki begitu dipenuhi ranting pohon hingga hampir tidak bisa disebut sebagai jalan setapak. Napasku yang memburu hingga ke ubun-ubun, berdengung di telingaku. Aku menerobos semak belukar dan ranting-ranting liar, berlari cukup lama sebelum akhirnya mencegat Han Sujin. Meskipun aku hanya melihat sekilas profil wajahnya, rasa ngeri yang luar biasa karena tertangkap tampak jelas melekat padanya.

Aku menubrukkan tubuhku ke arahnya, menangkap Han Sujin dan kami berdua jatuh terguling. Karena saat itu sedang musim dingin, tanah terasa sangat keras. Aku melingkarkan lenganku di sekitar tubuhnya untuk melindunginya sebisa mungkin, yang mana menyebabkan punggungku membentur tanah dengan keras saat kami terjatuh. Pada akhirnya, Han Sujin menyerah untuk melarikan diri. Alih-alih melawan, dia hanya terbaring di sana, terisak tanpa daya.

Jaksa Joo, yang sedari tadi berlari tepat di belakang, berhenti mendadak dan menarik borgol dari tas kulitku. Jemarinya yang tebal dengan cekatan memasangkan borgol itu ke pergelangan tangan wanita tersebut. Suara yang dipenuhi napas berat dan terengah-engah mengalir keluar dari celah bibirnya yang terbentuk rapi.

1.580 kata

The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 90

My Donation

Dukung translator

lovesis227 • The Prosecutor’s Office Proposal

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.