Grand duke [sang adipati agung] menaiki tangga, langkah kakinya bergema di sepanjang koridor sampai ia tiba di depan sebuah pintu kayu gelap. Ia membukanya dan menuntun Rensley melewati sebuah ruang tamu kecil yang juga berfungsi sebagai ruang tunggu, hingga akhirnya tiba di sebuah kamar dengan ranjang megah di tengahnya. Lampu-lampu yang menggantung di dinding memancarkan cahaya yang stabil, dan pendaran dari perapian yang menyala berkobar menyelimuti ruangan tersebut.
"Ini adalah kamar tidur grand duchess [sang adipati agung wanita]," katanya. Lalu ia tiba-tiba mengernyitkan dahi, menutupi mulut dengan tangannya sebelum berbicara lagi.
"Mungkin terlalu dini untuk menggunakan gelar itu sebelum upacara pernikahan dilaksanakan. Mohon maaf jika saya telah membuat Anda merasa tidak nyaman."
Rensley tidak merasa malu ataupun bingung mendengar kata-kata sang adipati agung. Justru, ia merasa dirinyalah yang mungkin menyinggung karena membiarkan dirinya disapa dengan gelar yang tidak pantas ia sandang.
Ia menggelengkan kepala lalu mengangkat satu jari. Pelayan wanita yang tadi mengantarnya ke tempat pemandian bergegas mendekat, mengulurkan telapak tangan untuk menerima balasan tertulis darinya.
"Tidak perlu menggunakan kamar grand duchess sebelum upacara dilaksanakan. Kamar sederhana mana saja yang bisa saya gunakan untuk beristirahat sudah cukup."
Pelayan itu, yang tampak terkejut sesaat, menyampaikan pesan Rensley kepada sang adipati agung.
Rensley mengamatinya dengan rasa kagum, memperhatikan ketenangannya yang tak tergoyahkan di hadapan sosok sang adipati agung yang mengintimidasi. Pelayan itu benar-benar mencerminkan pembawaan para pelayan di kediaman sang adipati agung.
Sepasang mata emas sang adipati agung yang dingin beralih menatap Rensley, dan ia menanggapi dengan nada datar, "Lelucon dari wilayah selatan, begitu saya berasumsi."
Meski Rensley bersungguh-sungguh dengan setiap kata yang ditulisnya, ia memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh dan mengalihkan pandangannya ke arah ranjang.
Ranjang besar yang ditopang oleh tiang-tiang tinggi itu terselubung tirai kanopi tebal berwarna merah anggur yang lembut dan berat. Strukturnya mirip dengan yang ada di Cornia, namun dengan tiang yang lebih tinggi dan tirai yang lebih tebal. Di Cornia, tirai ranjang dibuat cukup tipis agar udara segar dapat mengalir dan untuk menghalau serangga.
Sang adipati agung mulai menjelaskan, "Batu-batu yang dipanaskan diletakkan di antara kasur dan tempat tidur, dan sebuah tungku kecil berisi batu bara panas ditempatkan di balik selimut, yang nantinya akan disingkirkan sebelum tidur. Kehangatannya akan bertahan hingga pagi hari."
Tak lama kemudian, para pelayan wanita masuk dengan membawa wadah berisi batu bara merah yang membara dan sebuah tungku pemanas bertangkai panjang.
Rensley belum pernah melihat ranjang yang dihangatkan dengan cara seperti itu. Rasa ingin tahunya mengalahkan dirinya saat ia mendengarkan penjelasan sang adipati agung, sesaat melupakan situasinya yang genting.
"Karena Anda berasal dari selatan, cuaca di sini mungkin terasa asing bagi Anda. Namun tenang saja, kami melakukan berbagai tindakan menyeluruh untuk memastikan kastel ini tetap hangat," ucap sang adipati agung, suaranya perlahan menyurut hingga hening. Karena tidak ada lagi yang perlu ditambahkan, ia berdiri di samping Rensley, menyaksikan proses tersebut.
Para pelayan wanita menutup tungku pemanas itu, yang bentuknya tampak seperti dua panci tembaga terbalik dari dapur. Mereka meletakkannya di bawah selimut dan meratakan kehangatannya seolah-olah sedang menyetrika pakaian.
"Ini Samlet, pelayan pribadi Anda. Dia yang akan melayani kebutuhan Anda." Sang adipati agung menunjuk pelayan wanita paruh baya yang tadi menyampaikan pesan-pesan Rensley.
Rensley menyapanya dengan anggukan kecil dan terus menyaksikan para pelayan menyiapkan tempat tidur.
"Kalau begitu, saya mohon pamit."
"Oh—" Suara itu lolos dari bibir Rensley sebelum ia sempat menahannya. Ia begitu terpaku pada pekerjaan para pelayan hingga secara refleks menanggapi pamitan sang adipati agung.
Jantungnya berpacu karena panik. Ia melirik ke arah sang adipati agung, mencoba membaca reaksinya.
Dalam situasi di mana nyawanya bisa terancam tanpa ada kesempatan untuk melarikan diri, ia merasa seperti seekor tikus di hadapan seekor kucing.
Namun, justru sang adipati agung yang pertama kali memutuskan pandangan, mata emasnya sempat bertemu sejenak dengan mata Rensley sebelum akhirnya memalingkan muka. Rensley berharap sang adipati agung tidak menyadari ucapan singkatnya tadi atau mengenalinya sebagai suara seorang laki-laki.
Sulaman burung feniks perak pada jubah sang adipati agung berkilau dengan anggun saat ia melangkah pergi. Para pelayan wanita, yang masih asyik dengan tugas mereka, tampaknya tidak menyadari apa yang terjadi pada Rensley.
Ia ragu-ragu, matanya beralih antara sosok sang adipati agung yang berjalan menjauh dan para pelayan yang sedang menghangatkan tempat tidur, sebelum akhirnya melangkah maju. Meskipun langkah kaki sang adipati agung lebar-lebar, Rensley berhasil menyusulnya dengan mengangkat roknya dan bergegas mengejarnya.
Merasakan kehadirannya, sang adipati agung berhenti dan menatap tunangannya dengan acuh tak acuh. "Apakah ada sesuatu yang ingin Anda katakan?"
Melihat sang adipati agung mengucapkan beberapa patah kata manusia membuat Rensley menyadari bahwa sosok itu tidak semenakutkan saat pertemuan pertama mereka.
Setelah rasa takutnya agak mereda, Rensley memberanikan diri untuk mengamati wajah sang adipati agung.
Mata emas itu tampak begitu asing seperti bukan dari dunia ini, dan sikapnya tetap dingin, tetapi Rensley kini bisa melihat betapa tampannya pria itu secara mengejutkan.
Jika bukan karena binar matanya yang membuat tidak nyaman, ia bahkan mungkin terlihat lebih rupawan dan anggun daripada kebanyakan orang. Alisnya yang tebal dan hidungnya yang mancung memberikan kesan berwibawa pada dirinya.
Rensley bisa merasakan bahwa sang adipati agung sedang berusaha keras untuk bersikap baik kepada orang yang ia yakini sebagai tunangannya.
Namun, apa yang akan terjadi jika pria itu menemukan kebenaran di balik cadar ini? Seberapa mengerikannya sepasang mata emas yang menyerupai hantu itu jika berkobar karena murka?
Jika sang adipati agung memutuskan untuk mengeksekusinya karena penipuan ini, Rensley mungkin akan menganggapnya sebagai sebuah kemurahan hati. Nasib yang jauh lebih buruk tampaknya sangat mungkin terjadi: dijadikan subjek uji coba sihir kegelapan, atau disiksa dan diperbudak sampai ajal menjemputnya. Apa pun nasibnya kelak, Oldenlandt akan tetap aman dari segi politik. Dan Cornia tidak akan memberikan bantuan apa pun kepada Rensley, tidak peduli bagaimanapun situasinya.
Saat Rensley perlahan mengangkat tangannya, sang adipati agung—yang teringat pada tindakan pelayan tadi—mengulurkan telapak tangannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tangannya besar namun tetap mempertahankan keanggunan seorang bangsawan. Rensley tiba-tiba merasa minder dengan tangannya sendiri, yang kasar akibat bertahun-tahun melakukan pekerjaan rumah dan latihan tempur. Sementara para pelayan mungkin tidak menyadarinya, sang adipati agung, dengan tangannya yang halus, mungkin akan menyadari bahwa tangan-tangan ini bukanlah tangan seorang putri raja.
Setelah ragu-ragu sejenak, Rensley perlahan menggoreskan sebuah pesan di telapak tangan sang adipati agung: "Terima kasih. Saya tidak akan melupakan kebaikan yang Anda tunjukkan kepada saya hari ini."
Setiap sentuhan ujung jarinya meninggalkan sisa kehangatan dan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh kulit.
Rensley tahu bahwa tempat tidur yang hangat ini mungkin merupakan kemewahan terakhir yang akan pernah ia rasakan. Bahkan jika ini adalah hari terakhir dalam hidupnya, ia bertekad untuk tidak menyimpan dendam terhadap sang adipati agung yang telah menunjukkan kebaikan ini kepadanya, melainkan kepada Keluarga Kerajaan Cornia yang telah membuangnya sebagai pion politik.
Saat Rensley menurunkan tangannya, sang adipati agung tertegun sejenak, lalu perlahan menarik kembali tangannya sendiri. Kehangatan dari perapian mulai memanaskan ruangan, dan tampaknya sikap dingin sang adipati agung telah sedikit mencair.
"Istirahatlah dengan baik." Dengan ucapan itu, sang adipati agung meninggalkan ruangan tanpa basa-basi lagi.
Rensley kembali ke tempat tidur. Para pelayan wanita, yang telah menyelesaikan persiapan mereka, sedang mengeluarkan tungku pemanas dari balik selimut.
"Yang Mulia, tempat tidurnya sudah siap. Apakah kami sebaiknya menunda membantu Anda melepas pakaian sampai setelah upacara pernikahan selesai?" tanya salah satu pelayan wanita.
Rensley mengangguk, dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada setiap pelayan wanita tersebut. Terima kasih semuanya. Malam ini aku akan tidur di ranjang mewah yang belum pernah kukenal sebelumnya.
"Ada air untuk membasuh wajah Anda di dalam tempayan di dekat perapian. Jika Anda sudah siap besok pagi, tarik saja tali di samping tempat tidur seperti yang Anda lakukan di rumah pemandian, dan kami akan datang melayani Anda." Dengan membungkuk takzim, para pelayan wanita itu berpamitan dan meninggalkan ruangan.
Pintu yang berat itu tertutup di belakang mereka, meninggalkan kamar tersebut dalam keheningan yang senyap. Hanya sesekali terdengar gemeretak kayu yang terbakar di perapian dan lolongan binatang liar di kejauhan yang memecah keheningan.
Rensley berganti pakaian dengan sehelai gaun tidur. Meskipun dirancang untuk seorang wanita, ukurannya cukup panjang dan longgar untuk pas di tubuhnya dengan nyaman. Kain muslin yang halus di kulitnya terasa seolah-olah ruangan itu sendiri sedang menyambutnya.
Saat ia merangkak ke tempat tidur, Rensley tidak bisa menahan erangan kepuasan yang lembut. Kehangatan yang kering dan empuk dari selimut tebal itu menyelimutinya tidak seperti apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya. Itu adalah sebuah kebahagiaan yang hanya bisa ia hargai karena ia baru saja hampir mati membeku. Ia perlahan menggerakkan tungkai dan lengannya di bawah selimut, menikmati kenyamanan yang belum pernah ia ketahui di Cornia yang selalu hangat.
Satu-satunya saat yang bisa ia ingat ketika merasa kedinginan di Cornia adalah setelah menghabiskan terlalu banyak waktu di aliran sungai yang sejuk. Bahkan saat itu pun, berbaring di atas batu-batu yang menghangat oleh matahari akan dengan cepat mengusir rasa dingin itu pergi. Namun, hawa dingin di Oldenlandt begitu kejam, membuat kehangatan yang ia rasakan saat ini menjadi jauh lebih berharga.
Meskipun pikirannya dirundung kecemasan, tubuh Rensley yang lelah segera melemas bak keju yang meleleh di atas api. Ia tahu ia tidak boleh tertidur pulas—bahwa ia harus bangun pagi-pagi sekali dan berpakaian sendiri sebelum ada orang yang melihatnya—namun ia tidak kuasa menahan pikat rasa kantuk dan memejamkan matanya, menyerahkan diri pada kenyamanan tersebut.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.