Eighteen's Bed - Chapter 18.3 - Vol. 4 Chapter 18.3 - Kelulusanku💋

Aku terjebak dengan Go Yohan juga. Kebiasaan burukku yang membuatnya bertahan di sini sampai sekarang. Tetapi aku tidak cukup kuat untuk menghadapinya, dan aku tidak punya keberanian. Aku punya jalanku sendiri. Tidak ada alasan bagiku untuk memikul bebannya di pundakku, terutama saat dia sama sekali tidak peduli padaku.

Ya, tidak ada alasan sama sekali.

Aku mengangkat kepalaku, mendorong Go Yohan lebih keras, dan membuka mulutku.

“Kau berakting dengan sangat baik. Apakah orang tuamu sangat membencimu? Bagaimana aku bisa mempercayainya?"

Mendengar pengakuanku yang tiba-tiba, Go Yohan mengerutkan kening. Dia menatapku seolah-olah dia tidak mengerti apa yang kukatakan. Aku tertawa. Aku tidak mengerti, setiap kali aku melihat Go Yohan aku merasa seperti orang bodoh.

“Apa yang sedang kau bicarakan…”

“Jika kau masih ingin berbohong, silakan saja. Lagipula aku tidak akan menemuimu lagi. Aku hanya menahan diri untuk tidak mengumpatmu karena ini rumahku.”

“Hei, Kang Jun, siapa yang memberitahumu? Siapa yang memberitahumu hal itu?”

"Tidak penting. Aku tahu kalau semua yang kau katakan itu bohong. Itu sudah cukup."

“Tidak, bukan begitu. Tunggu, tunggu sebentar!”

"Pergilah. Lakukan apa pun yang menurutmu bisa kau lakukan. Namun jangan menunda-nunda ceritamu tentangku. Pulanglah dan mengeluh.”

Aku terhuyung keluar dari gerbang utama dan meraih kenop pintu. Lalu ketika Go Yohan hendak berbalik untuk melihat, aku segera membanting pintu hingga tertutup. Aku tidak ingin melihat ekspresi yang dibuat Go Yohan. Melalui celah ketika pintu tertutup, aku melihat sekilas leher bagian bawah Go Yohan. Ada sesuatu yang berat dan mencela tentang hal itu.

Jujur saja, aku memanfaatkan kesempatan ini. Di pagi yang tenang ini, untuk melepaskan semua hal yang terpendam. Mungkin aku juga mabuk. Tanpa mengetahui ajaran sesat apa yang menyelinap masuk pagi-pagi buta itu, mulutku otomatis berkata.

“Jika kau berani mengetuk pintu lagi, aku akan memanggil polisi. Sekarang tidak ada lagi yang ingin kubicarakan. Aku tidak ingin berhubungan denganmu. Aku lebih benci berhadapan denganmu daripada merasa terhina. Ngomong-ngomong, apakah kau sudah minum? Sangat bagus."

“Jun."

Aku tidak ingin mendengarnya. Aku tidak ingin mendengarnya memanggil namaku. Aku juga tidak ingin mendengarnya memanggilku Jun, bukannya Kang Jun. Aku mendorong pintu dengan kuat hingga menutup. Tidak, aku melakukannya. Pada akhirnya, aku tidak melihat wajah Go Yohan. Aku takut untuk melihat. Takut akan melakukan hal bodoh lagi. Atau aku akan menyesali pilihanku.

“Pergi! Jangan mendekatiku lagi! Sebelum aku lebih membencimu!”

Ketukan itu berangsur-angsur berhenti. Hal terakhir yang kudengar adalah suara yang sangat pelan, hanya terdengar dalam kesunyian. Aku tidak tahu kenapa suara itu terdengar sangat menyedihkan. Aku melihat ke bawah. Di bawah pintu, kaki Go Yohan masih terlihat. Dia berada di sisi lain, tidak bersuara, hanya berdiri diam seperti balok es.

Pada saat yang sama, firasat buruk tiba-tiba merasukiku, bahwa momen ini kemungkinan besar akan menjadi siksaan yang tak tertahankan jauh di dalam hatiku. Mungkin besok pagi. Dan siksaan itu, hanya setelah waktu yang lama, selama bertahun-tahun, baru bisa berangsur-angsur menghilang. Sesuatu secara naluriah dalam diriku mengatakan demikian.

Namun aku tetap berpura-pura tidak tahu. Kupikir aku memiliki hak untuk melakukannya.

“Aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Bajingan."

Rey{+_+}619

Aku tidak menyangka akan sebebas ini kalau tidak bersekolah. Ternyata, aku menjalani kehidupan yang sibuk. Pergi ke sekolah, mengikuti kelas tambahan, mendapatkan bimbingan belajar, lalu belajar sendiri. Ketika semua jadwal itu hilang, yang tersisa hanyalah kekosongan.

“Oh, sangat membosankan…”

Aku sangat bosan sehingga aku pergi ke taman untuk melakukan peregangan, lalu mengunduh permainan populer di komputerku. Jujur saja itu sama sekali tidak menyenangkan, aku mematikannya setelah 10 menit.

Hanya membuat mata sakit dan pusing. Aku juga membaca beberapa berita yang muncul di mesin pencari. Semua surat kabar mengulang cerita yang sama berulang-ulang, membosankan.

Jam 1 siang.

Akhirnya aku menyerah dan berbaring di tempat tidur. Memikirkannysaja harus melakukan semua ini sampai lulus membuatku sesak.

Ya, aku mencoba mencari hobi. Tapi hobi apa?

Berpikir untuk memilih hobi tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Karena aku tidak pernah berpikir untuk menjadi kreatif. Aku hanya pandai menghafal, tetapi tidak pernah berinisiatif melakukan apa pun. Berpikir tentang olahraga, aku menggelengkan kepala lagi.

“Itu terlalu merepotkan…”

Olahraga bukan untukku. Sudah seperti itu sejak lahir. Satu-satunya mata pelajaran yang pernah memberiku nilai A adalah lari jarak jauh, bertahan dalam waktu lama... semua itu adalah hal ketahanan. Segala sesuatu lainnya biasa saja.

Jadi apa yang harus dilakukan sekarang? Aku mengerjapkan mata ke langit-langit. Pada kertas dinding putih, tampak ada sesuatu yang mengambang. Tidak di atas kertas, tetapi di mataku. Apakah ini yang orang sebut fenomena lalat? Bentuk benda-benda itu tampak seperti benua Eropa. Oh. Aku melompat dari tubuhku yang lemas.

“Atau haruskah aku mengunjungi orang tuaku?”

Aku lulus ujian masuk universitas, orang tuaku akan senang melihatku. Ngomong-ngomong, aku juga bisa bepergian. Kegembiraanku begitu luar biasa, sampai-sampai aku hampir terjatuh dari tempat tidur. Saat aku meraih ponselku, kegembiraanku tiba-tiba mereda.

“Oh, aku lupa, aku mematikan ponselku.”

Sejak pagi hari, ponsel layar hitam tidak bisa berbuat apa-apa. Ditambah lagi, orang tuaku selalu percaya bahwa 'keberuntungan dibangun dari kerja keras'.

Bagi mereka yang menjadikan hal itu sebagai motivasi bekerja, kalau aku menyebutkan alasan lain selain sakit, pasti aku akan dimarahi. Saat ini, aku hanya menggunakan penyakit sebagai alasan untuk tidak bersekolah.

Setidaknya aku harus bertahan sampai lulus. Aku mengerang dan terjatuh kembali ke tempat tidur.

Sebenarnya, alasanku merasa lebih sengsara dari biasanya adalah hal lain.

Sejak hari itu, seseorang datang ke rumahku setiap malam. Saat fajar, tanpa waktu tertentu, seseorang diam-diam berdiri di gerbang dan kemudian pergi. Pembantuku mengetahui hal ini. Ketika aku bertanya bagaimana dia tahu padahal dia tidak mendengar bel pintu, pembantuku menjawab dia telah memeriksa kamera keamanan. Aku tidak repot-repot melihat ke kamera keamanan karena aku tahu siapa itu.

“Aku jelas tidak akan keluar. Bagaimana jika terjadi sesuatu?"

Kalau aku harus menggambarkan situasiku, itu akan seperti melarikan diri, diasingkan, atau seperti menutup gerbang dan bertahan sampai akhir. Jika kau bertanya apakah aku melakukan itu karena aku takut pada Go Yohan? jawabannya adalah 'ya'.

Tetapi aku juga tahu bahwa ini adalah pilihan yang bijaksana. Berhadapan dengan Go Yohan, konfrontasi langsung tidak pernah berhasil.

Bertemu dengannya hanya akan membuatku kesal. Jadi kenapa melakukan hal tidak berguna itu?

Akan tetapi, ada sisi buruk dari pertahanan ini. Karena tidak ada kegiatan, akhirnya aku teringat pada Go Yohan.

Ekspresi yang tak sempat kulihat hari itu, bayangan Go Yohan yang hanya sempat kulihat di bawah leher. Mereka menempel padaku seperti hantu. Aku menyesal tidak berani melihat ke atas saat itu. Seharusnya aku melihatnya, tidak peduli betapa keras kepalanya aku. Pikiran-pikiran imajiner ini hanya membuatku semakin terkekang.

Seperti apa wajah Go Yohan saat itu?

Perasaanku tidak dapat diungkapkan hanya dengan satu kata. Situasi, perasaan, dan realitas serumit gumpalan tanah liat yang berbeda warnanya, tidak tercampur tetapi terpisah. Akan lebih baik jika dipadukan dengan warna abu-abu.

Namun sebelum mereka berbaur, Go Yohan selalu melakukan sesuatu yang mengacaukan segalanya. Seperti ketika warna lain menutupi tanah liat abu-abu, menciptakan pusaran warna-warni. Seperti cat yang dibuang ke saluran pembuangan.

Setiap pagi pembantuku hanya menatapku dalam diam. Pada hari Sabtu, untuk pertama kalinya dia bertanya.

“Apakah tidak apa-apa jika kau tidak bersekolah?”

Pertanyaan itu mengejutkanku. Merasa disalahkan, aku segera mencari alasan.

"Aku sakit. Flu parah akhir-akhir ini."

Pembantu itu tinggal serumah denganku, jadi dia pasti sadar kalau aku berbohong. Namun dia tidak peduli, hanya mengangguk sedikit dan tidak bertanya apa-apa lagi.

Sebenarnya, aku mencoba pergi ke sekolah beberapa hari yang lalu. Rasa bosan dan khayalan menakutkan terus menghampiriku, memaksaku untuk pergi. Aku mengenakan seragam yang sudah lama dicuci namun belum pernah dipakai lagi sehingga mengeluarkan bau yang aneh, lalu aku pergi ke gerbang sekolah.

Namun bel berbunyi di seluruh sekolah dan suara gaduh para siswa remaja mendorongku keluar dari sana. Akhirnya aku tidak berani langsung pulang karena takut ketahuan pembantu, jadi aku jalan-jalan saja di sekitar rumah. Aku baru kembali pukul 12.30.

Karena tidak ada kegiatan apa pun, setiap kali aku berbaring di tempat tidur, gambaran itu muncul seperti mimpi buruk, menghantuiku. Leher Go Yohan bagian bawah. Dalam mimpiku, aku mencoba mengangkat kepalaku untuk melihat, tetapi aku tidak bisa.

Setiap kali aku bangun, seluruh tubuhku basah oleh keringat, seakan-akan aku baru saja diguyur oleh hujan. Meskipun rumahku tidak panas. Suhu tubuhku naik lagi. Aku khawatir aku betul-betul masuk angin, jadi aku mandi dan membasuh badanku yang lengket itu. Lalu aku memakai jubah mandiku dan keluar kamar untuk mengambil minum.

Tepat pada saat itu, aku bertemu dengan pembantu. Dia berkata dengan tenang.

“Bos bertanya, ada apa dengan ponselmu?"

Aku satu-satunya yang merasa malu. Dalam keadaan kebingungan yang tidak beralasan, aku perlahan menutup jubahku.

"Ponselku rusak. Aku akan segera membeli yang baru, tolong beritahu mereka.”

"Ya."

Setelah aku selesai minum dan kembali ke ruang ganti, aku menyadari kalau ada aroma Go Yohan di tubuhku. Kenapa aku meminjamkan sabun mandiku padanya? Seharusnya aku menyuruhnya mandi dengan air saja. Ini sungguh membuat frustasi.

Aku melepas jubah yang kukenakan dan melemparkannya ke lantai seolah-olah hendak melampiaskan amarahku. Namun yang terdengar hanya suara kain jatuh, dan amarahku tidak kunjung reda.

“…….”

Kenapa dia harus muncul seperti itu, sehingga mustahil bagiku untuk tidak menyadarinya? Tampaknya semuanya tenang. Aku semakin membaik, segalanya semakin membaik. Oh tidak, tidak lebih baik, tetapi tetap bagus. Ya.

Setiap kali pikiranku kacau, aku sering mengisi wastafel dengan air. Ketika air sudah cukup penuh untuk menutupi kedua tanganku, aku menundukkan kepala dan membenamkan wajahku di dalamnya. Itu akan menenangkan pikiranku.

Aku hanya perlu bertahan sampai lulus. Untungnya aku melakukannya.

Rey{+_+}619

Sehari sebelum wisuda, aku akhirnya menyalakan ponselku. Anehnya, tidak seorang pun mencariku. Menatap layar yang sunyi, aku tiba-tiba terdiam. Ternyata hubunganku hanya sebatas ini. Namun sebelumnya aku masih licin, berperan sebagai orang bermuka dua, dibenci pun juga pantas.

Aku memblokir nomor Go Yohan, jadi aku tidak tahu apakah dia mencariku atau tidak. Orang itu seperti pencuri. Berada di depan rumahku semalaman, tidak berani masuk. Aku tidak begitu peduli. Atau lebih tepatnya aku berpura-pura tidak peduli.

Pada saat itu, sebuah pesan tertunda tiba. Itu dari wali kelas.

<Jun, aku minta maaf.>

Hanya dengan kalimat sesingkat itu saja, aku dapat merasakan gelombang emosi yang ditimbulkan oleh harapannya yang setengah hati. Sejujurnya, aku merasa sedikit bersalah. Hari-hari yang aku sembunyikan mungkin membuatnya seperti orang yang tersesat di padang pasir, haus tetapi tidak dapat menemukan jalan keluar.

Aku melihat jam tanganku. Jam 9 malam. Ini adalah waktu berkirim pesan teks yang bisa jadi menyebalkan. Aku berharap aku menemukan pesan ini 5 menit sebelumnya. Aku hendak mematikan telepon karena menyesal, tetapi tiba-tiba berhenti. Jika aku berpura-pura tidak melihat sekarang, bukankah itu hanya akan memperpanjang ketidaknyamanan ini?

Aku memutuskan untuk membuat sedikit masalah sebagai balasan atas kebaikan guruku. Aku mengetik beberapa kata, lalu menekan tombol kirim.

<Saya baik-baik saja, jangan terlalu khawatir.>

Tepat saat aku mematikan layar dan berbalik untuk minum air, telepon bergetar. Itu guru yang menelepon. Setelah ragu sejenak, aku menarik napas dalam-dalam dan mengangkat telepon.

["Jun, kenapa kau tidak menjawab teleponku? Tahukah kau betapa khawatirnya aku?"]

“Oh, saya sedang tidak enak badan.”

["Astaga…"]

"Saya minta maaf karena membuat guru khawatir."

["Jun, aku benar-benar minta maaf. Kupikir begitu… Tapi, aku tidak punya muka lagi. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa."]

"Tidak apa-apa."

Mendengar guru itu terus menerus meminta maaf, aku merasa sangat bersalah hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku ingin segera menyampaikan kabar gembira tentang lulus ujian masuk universitas untuk meredakan suasana, tetapi aku takut kabar itu akan sampai ke telinga Go Yohan, jadi aku hanya bisa mengulang-ulang kata 'tidak apa-apa' seperti burung beo.

Lalu tibalah hari yang paling ditakuti.

Hari itu aku mimpi buruk lagi, mimpi buruk tanpa leher. Namun saat terbangun, aku sadar kenyataan tidak berbeda dengan mimpi buruk. Aku berusaha keras untuk bangun, mandi, membetulkan dasi seragamku di depan cermin, lalu mendesah. Aku bahkan bisa merasakan bibir bawahku sedikit bergetar akibat desahan yang baru saja keluar.

Aku mencoba menunda setiap langkah, tetapi mata orang-orang di sekitarku sepertinya tertuju padaku. Itu karena buket bunga besar dan berwarna-warni yang sedang kupegang di tanganku. Pagi ini begitu aku bangun tidur, pembantu langsung memberikannya kepadaku. Aku menoleh dengan heran, namun dia tetap tenang seperti biasa, mencoba meyakinkanku dengan suara yang tenang.

“Orangtua Jun yang mengirimkannya. Mereka memesannya, dan baru saja diantar pagi ini.”

“Ah, ya… Terima kasih, bibi.”

"Ya."

Kemudian terjadi keheningan yang tidak nyaman. Karena tidak tahan lagi dengan kesunyian itu, aku bergegas keluar rumah, seakan-akan melarikan diri. Terkadang aku merasa pembantuku mudah didekati namun canggung.

Ketika aku berjalan susah payah ke sekolah, upacara wisuda sudah dimulai. Suara kepala sekolah terdengar dari pengeras suara, begitu kerasnya hingga aku dapat mendengarnya dari luar di halaman. Di gerbang sekolah, aku bertemu Han Taesan yang terlihat sedang menunggu seseorang.

Han Taesan menatapku, namun aku berpura-pura tidak melihatnya dan berjalan lurus melewatinya. Sikapku tentu saja sangat terbuka. Setelah berbalik, aku menggertakkan gigi dan menggigit bibir.

Sial, aku pasti ketahuan. Aku bermaksud mengabaikannya, tetapi pria yang gigih itu tidak mengerti dan memanggil namaku dengan keras.

"Jun!"

Nada suaranya sama cerobohnya dengan seragamnya yang acak-acakan, tidak berubah sama sekali. Kalau aku berpura-pura tidak mengenalnya sekarang hanya membuatku semakin malu. Aku berusaha menahan kekesalanku, lalu berbalik dan menjawab.

“Oh, Taesan. Hai."

Puncak kemunafikan. Mendengar suaraku sendiri saja membuatku merasa jijik.

“Kau baru saja tiba?”

"Ya."

“…….”

“…….”

Setelah mengatakan itu, aku ingin menanyakan sesuatu lagi, tetapi dia tetap diam. Dalam permainan diam ini, yang kalah adalah aku. Sepertinya aku lebih tidak sabaran daripada Taesan.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Ah, itu… Menunggu… nenek.”

“Menunggu nenek?”

"Ya…"

Sial, Taesan terlihat sangat menyedihkan. Kenapa dia dilahirkan dengan penampilan yang menyedihkan seperti itu? Namun, aku berkata pada diriku sendiri untuk tidak menunjukkan rasa kasihan, dan mengulanginya lagi dan lagi di dalam kepalaku.

“Apakah nenekmu sudah merasa lebih baik?”

“Terima kasih, terima kasih padamu…”

“Kenapa kau berterima kasih padaku? Aku tidak melakukan apa pun.”

“……”

“……”

Hening lagi. Kaki kiriku tak kuat lagi dan tanpa sadar bergesekan dengan tanah berpasir.

“Bisakah aku pergi sekarang?”

"Hah? Ya, ya… oke…”

Wajahnya yang bulat tiba-tiba tampak seperti bunga yang layu, terkulai. Tidak ada belas kasihan, tidak ada belas kasihan. Inilah orang yang mengacaukan hidupnya sendiri. Orang yang mengatakan hal bodoh, seperti bagaimana hidupnya bisa sepertiku.

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri akan hal itu. Namun, mencuci otak sendiri tidak semudah kelihatannya, terutama bagi orang skeptis sepertiku.

Aku hendak berjalan menuju aula ketika aku tiba-tiba berubah arah. Aku segera berjalan mendekati Han Taesan, mengambil buket bunga, menepukkannya pelan di dadanya, lalu memberikannya padanya.

“…A-apa ini…?”

“Hadiah kelulusan. Ambillah."

“…”

“Tunjukkan pada nenekmu. Itu mahal, jadi kau bisa memamerkannya. Beritahu kalau temanmu yang memberikannya padamu. Sejak datang ke Seoul, kau hanya bersama Han Junwoo. Dia pasti sangat khawatir. Katakan padanya bahwa selain Han Junwoo, kau juga punya teman-teman lain.”

"Terima kasih…"

“Kau tidak keberatan jika aku menyebut Han Junwoo, kan?”

“…”

Han Taesan ragu-ragu sejenak, lalu mengangguk sedikit. Aku menatapnya juga, lalu mengangguk acuh tak acuh.

"Tidak apa-apa."

“…Hei, itu…”

"Hah?"

“Bagaimana dengan kuliahmu?”

"Oh itu."

Aku mengangkat kepalaku, sambil mengerucutkan bibirku sedikit. Haruskah aku mengatakannya atau tidak? Pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengatakannya. Sedikit kehati-hatian tidak ada salahnya.

"Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja."

“…”

"Bagaimana denganmu?"

"Aku? Aku…”

Suaranya melemah, seolah dia mengelak. Tetapi ini bukan rasa malu yang disengaja, melainkan rasa malu yang sudah biasa, sedemikian rupa sehingga membebaniku.

“…Aku gagal.”

"Kegagalan juga merupakan suatu keharusan."

“…”

Dalam situasi seperti itu, masih bisa belajar bukanlah hal yang manusiawi. Aku juga turun ke peringkat 12. Oh, kenapa tiba-tiba berpikir seperti itu? Sial, aku bahkan merasa simpati. Aku mengerutkan kening dan menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

Jika aku terus berbicara dengan Han Taesan, hidupku mungkin akan menjadi lebih rumit. Aku sedang terburu-buru untuk pergi. Sebelum berbalik, aku perlahan menyentuh buket bunga di tangannya dengan ujung jariku dan berkata.

“Jangan kuliah, jadilah pegawai negeri.”

“…”

“Kau belajar dengan baik. Belajar lebih giat, lalu ikut ujian khusus kelulusan SMA, jadilah pegawai negeri sipil. Dalam situasimu, itulah yang terbaik. Intinya, kau bisa menghabiskan semua uangmu untuk mengobatinya."

Itu tidak berhubungan, tapi aku ikut campur. Aku tahu itu, tapi aku tetap mengatakannya. Oh, aku mengusap wajahku dengan tangan, berusaha menyembunyikan ekspresiku, kalau tidak, aku pasti akan terlihat bodoh.

“Ah, ya… Terima kasih.”

"Aku pergi."

Sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih bodoh, aku segera pergi. Dari kejauhan aku masih mendengar seperti Han Taesan ingin mengatakan sesuatu lagi. Tetapi aku tidak berbalik, dan segera meninggalkan tempat itu. Merasa seperti baru saja terbebas dari beban, aku berkata pada diriku sendiri bahwa ini mungkin terakhir kalinya aku melihat Han Taesan.

Saat aku tiba di pintu masuk aula, tempat itu sudah penuh dengan orang. Orang tua yang mengenakan pakaian mewah menghalangi jalan. Tidak peduli sekeras apa pun aku berusaha masuk, aku hanya akan melihat hal-hal yang tidak ingin kulihat. Memikirkannya saja membuatku merasa mual, jadi aku menyerah.

Aku cukup mengambil beberapa foto wisuda dengan kamera ponselku.

Aku berbalik, menyesuaikan sudut sehingga spanduk wisuda pas dengan bingkai, lalu menyalakan kamera. Terdengar suara rana kamera sebentar. Aku melihat ke layarnya dan fotonya cukup bagus.

“…Dalam upacara kelulusan yang penuh makna ini, kita akan mendengarkan pidato dari siswa paling berprestasi tahun ini, Ahn Jisoo, siswa kelas 12-2…”

Oh, untung saja aku tidak masuk. Aku melirik ke aula dengan ekspresi bosan di wajahku. Dan pada saat itu, entah bagaimana, mataku bertemu pandang dengan Go Yohan yang baru saja menoleh. Seharusnya aku ingat kalau dia adalah orang tertinggi di sekolah jadi wajar saja kalau dia akan berdiri di barisan terakhir.

“…”

Aku merasakan pupil mataku membesar. Seberkas cahaya kecil menerobos ruang, menembus langsung ke mataku. Pandanganku kabur karena cahaya terang itu. Aku menyipitkan mataku. Lari! Naluri bertahan hidupku berteriak melalui setiap sinyal saraf.

Aku mengangkat tanganku untuk menutup satu mataku. Lari! Go Yohan telah berbalik sepenuhnya, dan matanya terpaku padaku. Aku menundukkan kepalaku dengan cepat untuk menghindari tatapan itu. Namun saat aku melihat ke bawah, kulihat kakinya melangkah di antara kerumunan, menuju langsung ke arahku.

Lari!

Saat itu juga aku melihat kakinya, kakiku akhirnya terangkat dari lantai. Aku berlari. Berlari seperti orang gila, tidak tahu harus ke mana.

Tetapi tubuhku, seperti kebiasaan, mencari tempat-tempat yang familiar. Lorong, tangga. Aku berpegangan pada pagar, terengah-engah saat menaiki setiap anak tangga, ketika dari belakang kudengar langkah kaki mengejarku, mendesak dan mengancam.

"Hah hah…!"

Dalam situasi ekstrem, tubuh manusia sering kali dapat melakukan hal-hal ajaib. Sambil menahan napas, aku terus berlari. Langkah kaki yang mengejarku semakin dekat dan cepat. Aku tidak tahu seberapa jauh aku berlari, dan aku tidak berani menoleh ke belakang. Dengan mata penuh kepanikan, aku menemukan ruang kelas kosong.

Aku melihat sebuah ruangan. Pintunya terbuka. Aku bergegas masuk, menutup pintu, dan segera bersembunyi di bawah meja. Aku menahan napas, mencengkeram kaki meja erat-erat, berusaha mengendalikan napasku.

Dunia tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Keheningan itu berlangsung selama beberapa menit, yang mulai menenangkanku. Ternyata aku salah, Go Yohan tidak mengejarku. Itu hanya ilusi yang diciptakan pikiranku. Memikirkan itu membuatku merasa jauh lebih baik.

Tetap saja, aku berhati-hati. Perlahan-lahan duduk di lantai, tanpa bersuara.

“Sial, itu hampir saja—”

“…Jun.”

Kepalaku yang penuh keyakinan terasa seperti dibakar menjadi abu. Suara itu datang dari belakangku. Seluruh tubuhku kaku, hanya leherku yang bisa bergerak cukup jauh agar aku bisa berbalik dan melihat.

Di belakangku, Go Yohan berdiri terengah-engah.

“…”

Dia mendekat. Satu langkah, dua langkah. Setiap langkah yang diambilnya membuat lantai bergetar. Getaran itu menjalar melalui lantai, naik ke lenganku, dan masuk ke otakku. Tetapi otak yang terbakar itu tidak dapat bereaksi lagi. Bahkan ketika Go Yohan membungkuk tepat di depanku.

“…”

Pada saat itu, hanya ada satu pikiran dalam benakku. Aku akan dipukul.

Aku refleks menutup mataku dan mengangkat tanganku untuk menutupi kepalaku. Dalam kegelapan aku menggigil lama sekali, tetapi tidak merasakan sakit. Ini aneh. Jantungku berdetak begitu kencang, rasanya seperti mau melompat keluar dari dadaku. Akhirnya aku tidak bisa menahannya lagi dan membuka mataku.

Dan kemudian, aku melihat pemandangan yang luar biasa.

“…Go… Go Yohan.”

“Terima kasih… terima kasih… sungguh terima kasih…”

Go Yohan menundukkan kepalanya di bawahku, tangannya mencengkeram kakiku erat-erat. Kakiku dicengkeram begitu kuat sehingga darah tidak dapat bersirkulasi, menimbulkan rasa nyeri dan mati rasa. Namun hanya dengan mendengar suaranya, aku tahu itu tidak disengaja.

"Terima kasih…"

Otakku yang mati rasa tidak dapat memproses ucapan terima kasih itu. Karena aku sangat terkejut. Semua pikiran dalam kepalaku seakan berhenti. Mungkin tak ada cara lain, karena otakku sudah rusak parah selama ini.

“Bajingan kau… Tidak, aku… aku tidak datang ke sini untukmu!”

Setelah beberapa saat, akhirnya aku tersadar kembali. Aku dengan kasar mendorong bahu Go Yohan yang tengah menundukkan kepalanya agar menjauh dari kakiku. Ketika dia mengangkat kepalanya, akhirnya aku melihat dengan jelas wajah yang selama ini kucoba cari dalam mimpi burukku.

Itu adalah wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata, tidak dapat digambarkan dengan gambar, hanya dapat diingat dengan mata. Otakku yang terbakar berubah menjadi abu. Wajah itu terlalu mengejutkan untuk terukir dalam ingatan.

Aku hanya bisa terbata-bata, “Ah… Uh…”

Mulutku tidak mampu mengeluarkan kata-kata yang jelas. Mataku terasa perih, tetapi penglihatanku berangsur-angsur pulih.

Segalanya menjadi lebih jelas, seolah dunia ingin aku mengingat momen ini.

Akhirnya aku melihatnya dengan jelas. Go Yohan adalah mimpi burukku. Orang yang mengaduk-aduk semua emosi di dalam diriku, dari ujung kepala hingga setiap sel tubuhku.

'Mungkin... Dengan memberinya ciuman, semuanya akan baik-baik saja.'

Pikiran itu berkelebat bagaikan saklar lampu yang diputar terlalu mudah. Jadi, aku akan melakukan sesuatu yang gila.

Aku menghampiri Go Yohan yang masih berlutut. Aku menangkup wajahnya, wajah yang tidak akan pernah kulupakan, dan menciumnya.

Anehnya, ciuman pertamaku tidak terasa seperti lemon atau markisa, melainkan asin dan pahit.

“…”

“…”

Saat aku mendorong bahu Go Yohan dan menatap lurus ke matanya, tatapan kami tampak berubah dengan segala macam corak, seperti spektrum cahaya. Akhirnya, ketika matanya berubah cerah bagai pelangi, aku pun tersadar kembali.

Sial, ini gila.

Tubuhku bangkit seperti per. Aku menggunakan tanganku yang kasar untuk menyeka bibirku. Rasa terbakar di kepalaku dengan cepat membuatku membangun pertahanan mental. Aku berpegangan pada tepi meja, berusaha menjaga keseimbangan tubuhku yang bergoyang.

Aku menatap ke arah Go Yohan yang masih berlutut dan menatap ke arahku sambil berkata, “Jadi… ini sudah cukup, kan? Apakah ini cukup?"

“…”

“Kalau begitu, sudah selesai.”

Dengan itu, aku berbalik dan lari.

Di lorong yang baru saja aku lewati, aku melihat sekilas ruang kelasku yang lama dari kelas 11. Tidak heran tempat ini terlihat begitu familiar. Ini adalah ruangan di mana Go Yohan dan aku bertemu.

~Vol. 4 End~

3.722 kata

Eighteen's Bed - Chapter 18.3 - Vol. 4 Chapter 18.3 - Kelulusanku💋

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.