Pemandangan di Morangak, tempat berkumpulnya para VIP, adalah yang paling megah di Dowonhyang.
Dengan taman yang luas untuk berjalan-jalan, kamar-kamar yang lapang dengan nodae (pagar luar) yang menjorok, pendopo Moranjeong di atas danau yang dipenuhi bunga teratai, dan pemandian batu dengan air panas yang mengalir terus-menerus di hutan lebat di belakangnya.
Di malam hari, katanya para VIP akan berendam di pemandian air panas, menerima layanan mandi dari para peri sambil mengapungkan cangkir anggur. Cheongwoo hanya berharap dia tidak harus melayani di adegan yang begitu merangsang seperti itu.
Krieek.
Taman Morangak, tempat dia masuk dengan nampannya melalui lorong samping dekat gerbang utama, tampak sunyi. Tamu hari ini adalah anggota VIP yang masih muda dan bertubuh bugar. Para konglomerat dari Seoul.
Dia ingat tak sengaja mendengar obrolan para peri saat minum kopi di siang hari, yang mengatakan bahwa di antara mereka ada orang-orang yang terlibat dalam bisnis berbahaya, salah satunya mungkin orang yang memiliki uang tunai paling banyak di negara ini.
Memikirkan hal ini tiba-tiba membuatnya sedikit takut. Meskipun ada banyak tamu yang lembut dan sopan di sini, ada juga yang pasti sulit dihadapi. Terutama dengan tamu yang mabuk, lebih baik tidak berpapasan jika memungkinkan. Jika kau tidak sengaja menyinggung orang kaya yang sedang mabuk, kau tidak akan pernah tahu apa yang bisa terjadi. Satu-satunya pilihan adalah berhati-hati sejak awal.
'Tapi manajer bilang semua tamu sudah keluar.'
Seharusnya tidak ada orang yang akan berpapasan dengannya saat sedang bersih-bersih, kan?
Cheongwoo menarik napas pendek dan dalam, lalu melepas sepatu ketsnya dengan rapi. Dia kemudian masuk melalui pintu masuk staf, memakai sandal, dan diam-diam bergerak maju dengan nampannya hingga dia mencapai pintu geser dengan jendela kisi berornamen yang ditutupi kertas.
Tidak ada tanda-tanda pergerakan di dalam. Cheongwoo dengan lembut mendorong pintu geser itu terbuka. Mengintip melalui celah dengan satu mata, dia memastikan bahwa, seperti yang dikatakan manajer, ruangan itu kosong.
"Syukurlah."
Merasa lega, Cheongwoo bergumam pada dirinya sendiri.
Dia melangkah melewati bantal-bantal lantai yang berserakan untuk mendekati meja. Detik berikutnya, seruan takjub lolos dari bibirnya.
"Wah..."
Apa sebutan untuk ini di dapur tempat mereka menyiapkan makanan tamu? Apakah ini paket Perjamuan Kerajaan A? Bagaimanapun, pemandangan puluhan hidangan Korea yang tertata rapi di atas meja lebar, cukup besar untuk ditiduri tiga pria dewasa, membuat matanya terbelalak.
Meskipun beberapa piring agak berantakan karena bekas sumpit, sebagian besar makanannya tidak tersentuh, sama seperti saat pertama kali disajikan. Aroma manis menguar dari botol-botol minuman keras berbentuk aneh yang terbuat dari tembikar biru-hijau. Apakah para tamu ini pemilih makanan? Atau mungkin mereka sama sekali tidak tertarik dengan makanannya. Apa pun itu, bahkan pesta raja pun mungkin tidak semenakjubkan ini.
Dia harus membersihkannya, tapi rasanya sayang sekali. Dia juga sangat lapar...
Berlutut di depan meja, Cheongwoo meraih piring kosong, tetapi kemudian menarik kembali jari-jarinya. Matanya tertuju pada chestnut (kastanye) manis, yang ditumpuk tinggi di salah satu sudut meja tempat manisan tradisional Korea diletakkan.
Ah, chestnut rebus itu sangat lezat. Neneknya dulu sering membuatnya saat dia masih kecil. Saat musim gugur tiba, mereka akan memetik chestnut dari gunung di belakang rumah keluarga mereka, mengupasnya satu per satu, membuang kulit bagian dalamnya, dan merebusnya dalam sirup gula untuk camilan.
Dia tiba-tiba teringat bagaimana beberapa hari yang lalu, semua staf dapur bergegas ke hutan di belakang Dowonhyang di pagi hari. Mereka pasti pergi mencari chestnut. Memikirkannya saja membuat air liurnya menetes.
Setelah ragu sejenak, Cheongwoo melirik ke sekeliling ruangan yang kosong itu. Kemudian, dia diam-diam mengambil sebuah chestnut dengan jari-jarinya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dan mengunyah chestnut di pipi kanannya. Chestnut yang lembut, lembap, dan manis itu lumer dengan lembut di mulutnya.
...Ini benar-benar enak.
Meski begitu, rasanya tidak semanis buatan neneknya. Apakah mereka menggunakan jenis gula yang berbeda? Cheongwoo, yang wajahnya merona hingga ke mata karena kagum, diam-diam mengkritik rasanya sebelum menelannya.
Sebelum dia menyadarinya, akal sehatnya telah menghilang. Lagipula, tidak ada yang mengawasi.
Tanpa berpikir panjang, Cheongwoo terus memunguti chestnut rebus itu satu per satu, menjejalkannya ke dalam mulutnya. Setelah menjejas enam buah ke dalam mulutnya, pipinya menggembung. Dia menekan bibirnya rapat-rapat karena jika dia membukanya sedikit saja, chestnut itu akan jatuh, jadi dia menekan ujung jarinya ke bibirnya. Saat dia sedang mengatur napas sejenak...
Sreek.
Sebuah suara datang dari dalam ruangan yang dia pikir kosong. Cheongwoo tersentak kaget.
"..."
Pria yang sedari tadi berbaring di balik meja itu perlahan bangkit. Bahunya yang lebar dan elegan terangkat saat dia mendorong dirinya bangun dari lantai.
Cheongwoo, yang mematung karena terkejut, bahkan tidak bisa berpikir untuk melarikan diri. Pria tak dikenal itu sudah setengah bangkit ke posisi duduk. Bahkan saat duduk, tubuhnya yang besar dan kokoh terasa sangat mengintimidasi. Kemejanya sedikit kusut, dasinya agak longgar, dan kancing rompi hitamnya setengah terbuka.
Sementara Cheongwoo berdiri di sana, sepenuhnya melupakan chestnut di mulutnya, pria itu berkedip beberapa kali, menatap ke depan. Profil wajahnya, yang dipenuhi rasa kantuk, tampak tajam dan jelas.
Cheongwoo tanpa sadar mengeluarkan suara tercekik. Pria itu secara refleks menoleh untuk menatapnya, tatapan mengantuknya sedikit menyipit.
"Apa ini?"
Pria itu berbisik seolah-olah dia sedang berbicara pada dirinya sendiri. Cheongwoo merasa jantungnya mencelos. Penglihatannya memutih.
"...Ah..."
Membuka bibirnya tanpa sengaja, sebuah suara kecil lolos, dan satu buah chestnut manis meluncur keluar dari pipi kanannya.
Tatapan pria itu tanpa ampun mengikuti arah jatuhnya chestnut tersebut.
Tuk. Tuk.
Chestnut itu memantul beberapa kali di atas meja sebelum menggelinding ke arah pria tersebut. Waktu seolah berjalan sangat lambat.
Chestnut yang dimuntahkan Cheongwoo jatuh tepat ke atas paha pria itu. Saat pria itu menunduk menatapnya, matanya tiba-tiba memancarkan kilatan gelap, terkunci pada Cheongwoo. Mata itu dingin, dalam, dan menatap dengan tajam.
Cheongwoo menahan napas.
Sambil menutup mulutnya, dia berdiri tiba-tiba dan terus menundukkan kepalanya berulang kali. Seluruh tubuhnya gemetar. Setelah beberapa saat, pria itu memiringkan kepalanya dengan helaan napas pelan.
"Apa-apaan ini?"
"..."
Setelah itu, ingatan Cheongwoo menjadi kabur.
Dis hanya ingat dirinya gemetar di sekujur tubuh. Alih-alih menjawab, Cheongwoo membungkuk dalam-dalam sekali lagi. Rambutnya terurai menutupi dahinya. Pria itu perlahan menyipitkan matanya, tampak seolah-olah dia baru saja menemukan sesuatu.
"Bukankah itu Direktur Gu Wonjae?"
Ketika Cheongwoo menceritakan situasinya, Taesung memiringkan kepalanya, bergumam pelan.
"Direktur Gu Wonjae?"
"Ya. Semua orang membicarakan bagaimana seorang tamu besar dari Seoul datang pagi ini. Siapa dia, apa dia seorang eksekutif di EM Construction?"
Mata Cheongwoo membelalak, bibirnya bergetar. Dia berharap tebakan Taesung salah.
"Dia semuda itu dan dia seorang direktur...? Tidak mungkin. Tidak mungkin itu dia."
"Yah, begitulah keluarga-keluarga seperti itu. Tapi dari deskripsimu, sepertinya memang dia."
Mereka bertemu di halaman tempat tinggal para bidadari. Taesung, yang baru saja turun ke desa bersama seorang tamu di sore hari, menyodorkan smoothie yogurt tawar kepada Cheongwoo—yang dia tahu disukai oleh Cheongwoo—sambil berbicara dengan nada acuh tak acuh.
"Dia sangat tampan, kan?"
"...Ya. Benar-benar..."
Cheongwoo diam-diam memainkan cangkir itu selama beberapa saat. Dia merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia mengingat mata itu, gelap seperti tengah malam, dingin dan mulus seperti kaca, namun entah bagaimana terasa pekat. Seperti itulah tatapan matanya. Ini adalah ungkapan yang aneh, tapi tidak ada cara lain untuk menggambarkannya.
Bisakah penampilan yang seekstrem ini melampaui keindahan menjadi sesuatu yang menakutkan? Yang bisa dia ingat hanyalah betapa dia merasa terintimidasi saat pertama kali mereka bertatapan.
"Kalau begitu itu pasti Direktur Gu."
Taesung mengangguk sambil mengocok minumannya untuk mencampur es dan cairannya.
"Aku sempat melihatnya saat dia check-in kemarin, dan bahkan dari kejauhan, dia memiliki aura itu... Dan kau bilang dia tidur di aula utama Morangak? Ada rumor bahwa dia dihantui oleh iblis tidur. Itulah sebabnya orang semuda dia datang untuk beristirahat di sini setiap tahun."
"Iblis tidur?"
"Seperti dia menderita narkolepsi atau semacamnya, selalu tertidur. Bukankah itu aneh?"
Tapi dia tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Sementara Cheongwoo merenungkan hal ini, menyesap melalui sedotannya, Taesung menyesuaikan posisi duduknya dan memasang ekspresi serius yang tidak biasa.
"Tapi kau ketahuan makan dari meja tamu di depannya? Dan kau begitu terkejut sampai tidak meminta maaf dengan benar sebelum melarikan diri?"
"Aku tidak bisa. Mulutku penuh dengan chestnut."
Wajah Cheongwoo langsung cemberut, mengusap permukaan cangkir plastik berisi smoothie seperti orang yang telah melakukan kesalahan.
"Aku takut chestnut yang lain akan keluar jika aku membuka mulut..."
Mengingat situasi itu membuat telinganya kembali memanas.
Ini adalah pertama kalinya ddia merasa begitu malu dan gugup seumur hidupnya. Mungkin karena itu, ingatannya terpotong-potong, seolah-olah dia habis minum-minum. Dia hanya ingat mundur perlahan karena terkejut hingga menabrak pintu geser, lalu melarikan diri dari ruangan itu, menyerahkan nampan yang belum selesai dibersihkan kepada rekan kerja yang lewat.
Saat itu, wajah Cheongwoo begitu pucat seperti baru melihat hantu, membuat rekan kerjanya terlihat khawatir. Perutnya benar-benar terasa mual akibat chestnut yang dia paksa telan.
"Kau harus pergi dan meminta maaf atas kejadian itu."
Mendengar kata-kata itu, Cheongwoo tiba-tiba merasa masa depannya suram.
"Bagaimana jika dia mengadukan hal itu?"
"Oh... bagaimana jika dia benar-benar melakukannya?"
"Apa yang bisa kau lakukan? Kau harus meminta maaf sebelum masalah ini sampai ke telinga manajer. Kalau tidak, kau yang akan ditendang dari sini."
Ditendang dari sini?
Cheongwoo berusaha menelan minuman asam yang ada di mulutnya.
"Orang-orang dari keluarga seperti itu memang begitu, tapi terutama keluarga yang satu itu... Bahkan Presiden Jeong membungkuk dan menjilatnya. Aku melihatnya saat dia check-in pagi ini; dia bahkan membawakan barang bawaannya. Kau pasti tidak ingin berurusan dengan orang seperti itu. Dan dia rencananya akan menginap selama lebih dari sebulan."
Ada benarnya juga. Jika dia tinggal selama sebulan, akan ada batas sejauh mana Cheongwoo bisa menghindarinya.
Cheongwoo merasa perutnya yang sudah mual menjadi semakin parah. Dia meletakkan smoothie-nya, menepuk-nepuk dadanya. Saat Taesung menghela napas, dia mengacak-acak rambut Cheongwoo yang tertata rapi.
"Sudah kubilang jangan diam-diam makan dari meja tamu."
"..."
"Kau benar-benar tidak beruntung."
Cheongwoo menurunkan bahunya dan bergumam lemah.
"Kau benar. Aku memang selalu sial."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.