Rut Partner - Chapter 15 - Bab 15

Bab 15


Dilihat dari penampilannya, sepertinya wanita tua itu adalah nenek Ideun, dan karena kata "pasangan" baru saja disebut sesaat lalu, sepertinya hubungan mereka sudah berkembang cukup jauh dalam waktu singkat itu.

"Aku sudah berencana untuk menghubunginya segera, jadi aku akan atur tanggal lewat Sekretaris Baek. Cuacanya dingin. Bawa Haneul sekalian," katanya.

"Oh, tidak, tidak apa-apa. Aku datang dengan supir."

"Yang seharusnya mengurus keluarga adalah laki-lakinya. Anak ini begitu penuh perhatian… Dan dia tidak dalam kondisi kesehatan yang terbaik. Begitu dia resmi jadi bagian dari keluarga kita, nenek ini bisa menjaganya dengan baik. Sekretaris Cha, masukkan apa yang kita siapkan ke mobil Ideun."

Merasa canggung karena hanya berdiri seperti penonton, Ji-an dengan hati-hati mengeluarkan ponselnya. Pikirnya ia harus memanggil taksi… Ah, tapi dengan Bobo, mungkin pet taxi?¹ Walau taksi biasa mungkin tidak masalah kalau ia tetap menjaganya di dalam carrier...

>¹ Pet taxi — jasa taksi khusus yang mengizinkan dan menyediakan fasilitas untuk membawa hewan peliharaan.

"Sepertinya aku tidak bisa mengantar Haneul hari ini. Aku ada teman…" kata Ideun.

"Sekretaris Cha, panggil taksi," perintah nenek itu.

Tunggu, aku sudah mencoba panggil taksi… Ji-an dengan canggung menunjukkan layar ponselnya dengan aplikasi pesan taksi terbuka dari belakang Ideun, tapi tidak ada yang menyadarinya. Pria berjas di belakang nenek itu mengeluarkan ponselnya, sementara Haneul bilang dia bisa pulang sendiri. Ideun tetap membelakanginya.

"Cukup," kata Ideun tegas.

"Apa yang kamu bilang?"

"Aku akan urus Haneul sendiri, jadi masuklah ke dalam. Dan jangan buat keributan lagi."

"Beraninya kamu bicara begitu padaku…"

Ini tidak kelihatan bagus. Oh, aku mengerti—ini cerita klasik di mana protagonis berselisih dengan keluarganya. Melihat nenek itu memanjakan Haneul menunjukkan bahwa dia adalah orang yang akan menjembatani ketegangan keluarga dan menyelesaikan semuanya.

Menyaksikan dengan rasa terlepas, Ji-an melirik layar ponselnya. Karena mereka di luar pusat kota, permintaan tumpangannya masih belum terpenuhi.

Oh… eh?

Tepat saat itu, Ji-an merasakan genggaman kuat di pergelangan tangannya menariknya maju, dan ia secara otomatis mengikutinya. Saat Ideun menariknya, pandangan Ji-an beralih antara nenek itu, yang berdiri diam, dan Haneul, yang berdiri dengan ekspresi yang tak terbaca.

Namun, Ideun berhenti setelah beberapa langkah ketika nenek itu mengusulkan, "Karena kalian berdua teman, bawa saja keduanya." Walau Ji-an tidak bisa melihat atau mendengarnya, ia merasakan kekesalan diam Ideun memancar darinya.

Mungkin ini kompromi yang paling masuk akal, karena akhirnya Ideun menjawab ia akan melakukan itu, melepaskan pergelangan tangan Ji-an, dan mendekati neneknya. Ditinggalkan berdiri sendiri sedikit jauh, tangan Ji-an segera diambil oleh Haneul.

"Ayo, tunggu di mobil saja."
Mengambil kunci Ideun, Haneul menyalakan mobil, menghidupkan pemanasnya, dan duduk di kursi penumpang, sementara Ji-an secara alami berpindah ke kursi belakang.

"Aku bisa saja panggil taksi…" gumam Ji-an pelan, mendesah dalam atmosfer yang tegang dan sunyi. Kenapa ini bahkan terjadi? Ia jelas-jelas orang ganjil di sini, seperti pemain figuran canggung yang tidak diinginkan siapapun di timnya.

"Tempat ini terpencil, dan di malam seperti ini, kamu mungkin tidak akan dapat taksi," kata Haneul dari kursi penumpang, membuat Ji-an mendekat ke pintu mobil.

"Cukup sampai jalan utama yang ada bus atau stasiun subway saja…"

"Seo Ji-an."

Walau suara Haneul terdengar tenang seperti biasanya, Ji-an merasakan ketegasan di dalamnya, seperti pisau tersembunyi.

"Bagaimana kamu kenal Ideun?" Suara Haneul punya intensitas bertanya yang membuat jantung Ji-an berdebar lebih cepat, dan ia menelan ludah.

"Ingat waktu aku pergi ke Prancis?"

"Iya, aku ingat."

"Kami kebetulan bertemu di sana. Eh… aku tidak bermaksud nguping, tapi dari yang aku dengar tadi, kamu dan Ideun… sedang dekat?" tanyanya ragu-ragu.

"Kami akan ada pertemuan resmi setelah liburan. Jadi, bagaimana kamu terlibat dengan hyung-ku?"

Menghindari menatap langsung Haneul, Ji-an sengaja memilih kursi pojok belakang, tapi tatapannya sekarang terpaku pada tatapan intens Haneul.

"Aku berhutang budi padanya di Prancis, jadi aku menawarkan untuk membayar makan."
Walau ia tidak bisa mengatakan kebenaran sepenuhnya, itu juga bukan kebohongan. Ji-an menjaga nadanya santai, tidak ingin terlihat menghindar atau menyembunyikan sesuatu.

"Dan itu kebetulan jatuh di Malam Natal, dan di restoran yang dikelola keluarganya?"

"Eh?"

"Kamu tidak tahu?"
Baru saja ia sadar kalau ini Malam Natal, dan ia baru tahu bahwa restoran ini milik keluarga Ideun.

"Dari ekspresimu, kurasa kamu memang benar-benar tidak tahu."
Tatapan Haneul menyapu dirinya, melihat segalanya dari wajahnya sampai carrier kucing di pelukannya.

"Dan apa itu?" tanyanya.

"Kucingku."

"Wow, serius. Aku kira aku paling mengenal kamu di antara semua teman sekelas kita, tapi hari ini aku melihat sisi yang sama sekali baru darimu."

Lalu, setelah meminta izin, Haneul dengan lembut menyingkirkan syal yang menutupi carrier. Ji-an sudah membuat sarang nyaman dengan selimut dan hot pack di atas barang-barangnya. Bobo, sama sekali tidak menyadari ketidaknyamanan pemiliknya, terlentang menelentang, perut bulatnya terlihat saat ia tertidur lelap.

"Dia baru bayi."

"Sekitar enam sampai delapan minggu."

Melihat ketertarikan Haneul, Ji-an dengan hati-hati mengeluarkan Bobo.

"Meong…"

Bobo merentangkan kaki-kaki kecilnya dalam menguap mengantuk saat ia menyesuaikan diri ke tangan Haneul, dan keduanya tak bisa menahan tawa.

"Boleh aku gendong?"
Memberikan Bobo pada Haneul, Ji-an melirik ke belakang lewat bahunya. Seseorang masih memasukkan barang-barang ke bagasi mobil.

"Seo Ji-an."

"…"

"Kalau kamu omega atau, ya… orang seperti itu, mungkin aku akan khawatir soal kesalahpahaman, tapi kamu bukan, kan?" Kata-kata blak-blakan Haneul membuat mata Ji-an melebar. Tidak, jelas tidak. Kalau aku omega, tidak akan bisa terhindar dari kesalahpahaman; bahkan sebagai beta, ya, orang punya kecondongan tertentu… Jelas Haneul sedang menetapkan batasan.

"Kamu tahu Ideun kerja apa?"
Ia cepat-cepat menggelengkan kepala. Jangan salah paham. Jangan salah paham sama sekali. Aku cuma seseorang yang ingin menjodohkanmu dengan orang itu entah bagaimana caranya. Aku sepenuhnya di pihakmu.

"Apakah keluarganya benar-benar mengesankan?"

Walau lebih lambat dari yang pertama, Ji-an tetap menggelengkan kepala. Dia mungkin dari keluarga berkuasa. Dia bisa jadi anak pemilik perusahaan besar, atau mungkin dokter? Pengacara? Ia tidak bisa mengingat novelnya secara pasti, tapi ia yakin dia bukan selebriti. Bagaimanapun, tokoh utama biasanya punya pekerjaan seperti itu. Tidak terlibat dunia hitam, kan? Pekerjaan seperti itu sudah tidak tren lagi…

"Jadi, semuanya sudah selesai dengan bantuan yang kamu terima?"

Kali ini, ia bisa mengangguk dengan percaya diri. Lagipula, mereka sudah berjanji dan sudah makan bersama… Tapi tunggu, restoran ini milik keluarganya. Jadi, bukannya itu berarti ia bisa makan gratis? Benar, sudah aneh saja mereka berhasil pesan ruangan privat di musim puncak. Kalau dipikir betul-betul, bukannya ini hidangan kursus 500.000 won per orang? Aku cuma bayar 300.000 won.

"Kamu akan datang ke pernikahanku, kan?"

Kali ini, Ji-an tidak bisa mengangguk atau menggeleng. Sampai sesaat lalu, Haneul sudah menatapnya langsung, tapi kali ini ia malah melihat Bobo, membuat Ji-an tanpa jawaban.
Saat ia ragu, tak bisa langsung menjawab, Ideun masuk ke kursi pengemudi, memberikan kesempatan bagi Ji-an untuk menghindari pertanyaan itu.

"Nenekmu kasih banyak hal lagi? Aku sungguh tidak masalah. Apa yang nenekmu suka?"

Begitu Ideun masuk ke mobil, atmosfernya berubah. Nada Haneul tidak banyak berubah dari sebelumnya, tapi suaranya jadi lebih lembut dan hangat, dengan sentuhan kasih sayang dan senyum cerah.

"Tidak perlu khawatir soal itu. Cuma antar Ji-an dulu, ya?"

"Eh, cukup turunkan aku di jalan utama saja."

"Iya, iya. Kalau aku bawa semua ini, orangtuaku akan mengomel lagi soal itu. Apakah nenekmu minum gongjindan?² Obat herbal dari klinik yang kita kunjungi itu bagus sekali."

>² Gongjindan — sejenis obat herbal tradisional Korea berbentuk pil yang dianggap berkhasiat untuk kesehatan dan vitalitas, biasanya cukup mahal.

Ah. Begitu rupanya. Kalian berdua sama-sama tidak peduli sama apa yang aku katakan, ya?
Baiklah. Aku tidak terlihat. Aku tidak bisa dilihat atau didengar. Secara alami, aku juga tidak bisa berbicara.

Aku tidak bisa lihat atau dengar apa-apa. Sebenarnya, itu tidak benar—lampu jalan oranye memancarkan cahaya indah pada pemandangan malam, dan carol yang mengalun di mobil Ideun mengisi telinga Ji-an dengan menyenangkan.

"Ada apa?"

"Kakakku ada rencana, teman-temanku semua keluar dengan pasangan mereka, jadi aku bosan. Orangtuaku sedang kencan, jadi aku memutuskan untuk makan malam bersama nenek karena dia sendirian."

Kalau ia bisa menggendong Bobo, ia bisa mengelus bulu lembutnya dan meremas perut gendutnya, tapi karena tak ada yang bisa dilakukan, Ji-an malah memainkan syalnya. Ia bisa memalingkan pandangan, tapi tidak bisa berhenti mendengar mereka, jadi ia mencoba sebaik mungkin untuk fokus pada carol.

Tiba-tiba, di tengah aroma kayu yang familiar di mobil Ideun, ia mencium aroma apel segar. Awalnya, ia kira ia salah, tapi aroma yang terus-menerus itu membuatnya menyandarkan dahinya ke jendela mobil.

Wow, ini benar-benar rumit.
Kenapa aku terlibat dalam kisah cinta orang lain? Aku bilang akan kasih saran, bukan ini.

Sebagai beta, berpura-pura tidak menyadari adalah yang terbaik. Tapi sejujurnya, Noh Haneul… Anak yang berani sekali.

Ia selalu mengira aroma kayu Ideun datar dan kering. Sebaliknya, aroma apel manis yang sekarang ia rasakan memunculkan bayangan apel berisi madu yang melayang-layang di pikiran Ji-an. Apa minimarket dekat tempatnya jual apel? Mereka ada pisang… tapi toko buah sudah tutup jam segini.

Kalau aku sampai ngiler begini, bayangkan bagaimana perasaan si alpha yang sedang nyetir. Noh Haneul, anak yang berani.
Ini sesuatu yang dilakukan kalau cuma kalian berdua saja. Aku bahkan tidak perlu ikut terlibat. Bravo, Noh Haneul. Tokoh utama memang levelnya beda. Kemampuan godanya luar biasa.

Bukan aroma yang membanjiri, menggetarkan tubuh, intens, dan panas yang akan membuat seseorang sesak napas. Tidak, feromon Haneul manis, segar, dan menggemaskan—sesuatu yang membuat orang merasa kegelian dan tersenyum, sambil sedikit membangkitkan nafsu makan. Ji-an secara halus mengangkat tangannya, menutupi dagunya saat ia mendekatkan pergelangan tangannya ke hidung. Ia menarik dan menghembuskan napas perlahan, tapi semua yang bisa ia cium hanyalah aroma samar sabun mandi dan pelembut pakaian dari bajunya.

Feromon mampu mengekspresikan sebanyak yang bisa diekspresikan orang seperti pria itu atau, sekarang, Haneul. Itulah sebabnya alpha dan omega terasa begitu istimewa satu sama lain. Bahkan tanpa kata-kata, mereka bisa menyampaikan emosi lewat feromon, dan begitu terikat, mereka jadi tak terpisahkan.
Omega resesif yang tak beraroma samar yang dulu pernah ia jadi sudah tidak ada lagi. Saat pemeriksaan rutin terakhirnya, dokter mengatakan semuanya negatif. Walau resesif menghadapi kesulitan, terapi feromon atau opsi lain kadang bisa memungkinkan untuk punya anak. Tapi sekarang, itu mustahil baginya.

Ia mendapat suntikan kontrasepsi yang tidak teratur. Bukan pil biasa yang bisa diandalkan, melainkan suntikan yang mengacaukan keseimbangan tubuhnya. Selain itu, ia juga mengonsumsi stimulan rut. Dengan bahan-bahan yang saling bertentangan seperti itu membanjiri tubuhnya, tentu saja, itu tidak normal.
Sekarang, bahkan menyebutnya resesif pun sudah terlalu memaksa, jadi ia memohon untuk diakui sebagai beta sebagai gantinya.

Ia tidak bisa punya anak, dan sebagai omega tak beraroma, ia tidak bisa menarik alpha lewat feromonnya—omega macam apa itu? Ia ingin hidup sebagai beta biasa saja.

Dokter tua yang ia temui setelah setiap malam bersama pasangan rutnya menatapnya tanpa kata-kata. Setelah keheningan yang cukup panjang, dokter itu mengeluarkan beberapa formulir konfirmasi, dan Ji-an mengajukan permohonan untuk mengubah statusnya.

Sekarang, ia bisa dengan percaya diri memberitahu siapa pun bahwa ia adalah beta.
Lucu, kan? Ia masih bisa merasakan feromon orang lain dengan cara ini.

Berbeda dengan feromon ekspresif Haneul, aroma kayu Ideun tetap sama. Lagipula, dia tidak terlihat seperti orang dengan banyak gejolak emosi. Tapi di saat seperti ini, bukannya Haneul bisa sedikit menyesuaikan feromonnya? Pria ini benar-benar tidak memberi celah sama sekali.

Apakah ia mengira Ji-an itu omega? Ia kira ia sudah pernah menyebut bahwa ia bukan omega waktu itu. Ji-an mengingat pertemuan pertamanya dengan Ideun dan mengintipnya sekilas saat dia sedang menyetir.

Orang itu menanyakan apakah ia sendirian dan menyuruhnya mencari alpha atau wali.

Jadi, itu berarti dia mengira ia omega… Berdasarkan apa, ya?
Karena mengendus pergelangan tangannya berulang kali tidak akan tiba-tiba menciptakan aroma, Ji-an menahan diri untuk menguap palsu dan menjauhkan tangannya dari hidungnya.

Hal-hal seperti feromonmu, fakta bahwa kamu akan menikah tahun depan—aku tidak tahu apa-apa, oke?

Setelah melirik sekilas ke Ideun, Ji-an menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu berbalik untuk mengagumi pemandangan malam yang indah di luar jendela. Menyeberangi Sungai Han, pemandangannya terlihat bahkan lebih menakjubkan dari sebelumnya.

Mungkin ia harus dapat SIM? Menyetir sendiri di malam seperti ini pasti enak. Tenang, damai, dan emosi-emosi yang kacau dalam dirinya perlahan mulai mengendap.

—Akhir Bab 15—

2.032 kata

Rut Partner - Chapter 15 - Bab 15

My Donation

Dukung translator

Taxian_Jun • Rut Partner

Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

Ā· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.